(Sebuah
kenangan 3 tahun yang lalu)
Cerpen: M.Riski
Tiga tahun sudah berlalu. sebuah
waktu yang begitu panjang telah kita lewati begitu saja tanpa kita rasakan,
namun kini aku baru sadar betapa aku merasa kehilangan semua hal dalam
jangka tiga tahun yang sudah berlalu
itu. Mulai dari suatu yang dirasa tak penting. Kenakalan, sikap yang selalu
maen-maen, meski sekarangpun bukan lantas aku selalu serius dalam segala hal
dalam hidupku di tahun yang berbeda dari tiga tahun yang lalu dulu, namun suasana
yang berbeda menuntutku untuk merindukan suasana maen-maenku dulu. Semacam
memoar yang coba di ulang kembali.
Ya,,, aku masih ingat semua itu.
Kadang aku harus tersenyum sendiri ketika bayangan masalalu itu hadir berkelembat
begitu saja dalam fikiranku. Aku ingat dulu saat kita masak bersama di dapur umum di
pondok kita yang hanya tertutup separuh badan saja dengan tembok yang tidak
begitu kuat.apabila pada saat itu kita tak memiliki uang untuk beli minyak buat
bahan bakar kompor, maka kita harus berasap-asap dengan tungku sederhana yang
kita buat hanya dengan susunan batu bata yang apa bila kena senggol, kaki temen
kita yang sibuk mengurusi masakannya sendiri dia akan roboh. di dapur yang bisa
di bilang sempit, untuk menampung jumlah santri di pondok kita untuk masak
nasi. Yah sebuah kekurangan yang bagiku
sekarang aku rasa sebuah nikmat, dari pada tempatku yang sekarang, meski untuk
masak sekarang aku tinggal colok dan tekan tombol. Namun ada satu hal yang
sangat berarti, dari pada keenakan nanak nasi, ya itu sebuah suasan kebersamaan
yang akrab, meski sering kali kita selingi dengan pertengkaran kecil, tentang
pembagian tugas menanak. Tapi aku piker itulah nikmat yang sebenarnya. Setelah pertengkaran-pertengkran
kecil dan kesibukan-kesibukan di depan tungku sederhana batu bata kesayangan
kita usai. Maka pada saat itu kita akan merasakan sebuah orgasme kenikmatan.
Yaitu kita akan makan bersama di atas sebuah piring raksasa, yang lebih di
kenal di kalangan kita adalah talam.
Dan semua itu adalah sebuah suasana langka yang takku temui di sini. Di sudut
tampat yang lain dengan mu di sana.
Setelah ritual makan bersama dengan
porsi besar usai, kita akan seperti cacing kehausan, kita akan mengap-mengap
lari ke waduk di timurnya kamar pondok kita. Di situlah kita akan seperti
segerombolan kambing yang baru datang dari padang rumput dangan keringan yang
menetes, kita kan minum dari kran air yang di sediakan untuk tempat minum dan
tempat mencuci beras-beras kita setiap kali kita mau nanak.
Dan semua itu akan kita lakukan
bersama-sama. Tak ada kesendirian di tiap detik kita lalui di sana. Di sebuah
pondok surga dan neraka.begitulah kita sebut istilah nama buat pondok kita
tercita itu dulu. Surga karena ada saja kecerian di tengan kekurangan sarana
yang kita punya, surga karena kita takkan pernah kesepian di tiap waktunya, surga
karena kita biasa mengenal banyak orang dengan kebiasaan dan dari lingkuangan
asal yang berbeda pula, namun dari semua perbedaan baik dari segi berbahasa dan
bergaul ada kebersamaan yang coba saling mengisi di setiap rung dan watu kita
dan itulah merupakan sebuah surga terbesar di sana.
Tentunya kau masih ingan saat kita
dulu saling berbagi sabun mandi, dan berrebutan madi lebih dulu di kamar mandi
raksasa yang lebih menyerupai kolam ikan itu. Dan kita akan telanjang tampa
malu satu sama lain hanya memakai sampet,atau semacam celana dalam. Kita akan
asik madi tampa terusik tangan saling sikut karena tertalalu banyak orang yang
mandi, meski kamar mandinya sudah seluas kolam ikan.
Namun ada kalanya kita akan merasa
tempat itu seperti neraka, bagi orang-orang semacam kita. Orang-orang pandai
yang malas belajar, yah sedikit pede gak apa-apalah,karena gak bakal ada orang
yang mau di bilang bodoh meski dia bener-bener bodoh. Ketika kita harus di hadapkan
dengan kegiatan-kegiatan pondok, seperti ajian kitab dan hafalan-hafalan yang
selalu di wajibkan bagi santri-santri, terutama bagi santri-santri baru dan santri
kelas tiga akhir. Namun ada lagi yang paling buat kita ngeri seperti di neraka.
Yaitu ketika kita mendengar suara Pak.Sidu menggema di pegeras suara pondok,
sehabis jam belajar. Pak.Sidu, dia adalah salah satu intel keamanan pondok yang
selalu memata-matai setiap santri yang coba-coba melanggar. Dan apabila
ketahuan melanggar maka awas nanti malamnya sehabis jam belajar. Maka dengan
suara paraunya dia akan panggil namanya, santri si pelanggar tersubut. Dan bagi
kita dia ancaman yang suatu waktu dia siap untuk memanggil kami. Maklumlah jika
kekhawatiran itu timbul di antra kita.
Pastinya kau juga tau bahwa kita
adalah salah satu jenis santri yang tak mau untuk selalu di kekang. Adakalanya
kita butuh kebebasan. Maka pada saat itu, kita akan jadi pelanggar peraturan
pesantren. Kita akan keluar pondok pada jam-jam aktif pondok, dengan
mempersiapkan setrategi jitu agar kita tidak ketahuan Pak.Sidu, dan apabila
kita di temukan melanggar maka kita sudah mempersiapkan jawaban setelah
terompet malaikat isrofil di tiup oleh Pak.Sidu. dan kita seduh siap dengan
jawaban masing-masing setelah masuk sidang di kantor keamanan pondok.
Mimang, Pak.Sidu dulu bagi kita
adalah momok yang paling menakutkan, dia seperti sebuah hantu yang selalu
menggeryangi setiap gerak kita, namun itulah pondok kita yang indah. Tampa
Pak.Sidu, di pondok kita maka aku yakin takkan ada hiburan sama sekali, karena
takkan ada cerita-cerita seru bagai mana santri-santri lain yang tak secerdik
kita tertangkap melanggar tampa punya alibi untuk membela dirinya karena sudah
tertangkap melanggar, serta di barengi ketakutan yang mendera di kantor
keamanan podok. Maka dapat kau tebak setelah dia keluar dari ruang keamana, dia
akan berubah wujud menjadi tuyul yang baru masuk islam, yaitu rabutnya di
gundul plus hadiran setu bulan dan haru di shaf sholat paling depan. Serta
harus mengisi belangko absensi hukuman selama satu bulan.
Ya,,, sukurlah kita tak pernah jadi
tuyul yang baru masuk islam, namun jadi penjaga shaf solat paling depan, itu
rutinitas kita bersama.
@@@
Namun di sini, disudut tempat yang
berbeda dari tega tahun yang lalu, aku masih merindukan itu semua, akankah kau
akan menceritakan kisahmu di sana padaku, seperti aku menceritakan kisah-kisah
hebat kita dulu ini.
Karena aku sudah rindu suara
Pak.Sidu di pengers suara podok kita, yang dulunya terasa angker. Namun
sekarang semua itu seperti sebuah lirik lagu yang merdu, serta kelezatan
masakan kita yang lebih lezat dari pada KFC dn MCD dengan aroma tungku yang
takkaruan.
Masihkan kau
ingat itu, dan merindukanya seperti aku?
Surabaya 14, April, 2013
Posted by , Published at 08.48 and have
0
komentar




