“Sebuah catatan dari seorang mahasiswa “
Oleh:
M.Riski
Ada
ketak pastian ketika aku tulis sejarah ini, sebuah tapal waktu yang coba di
terjemah kepada ruang yang lebih kabur lagi, ada kebohongan di hatiku, ketika
saat itu kau coba tersenyum pada suatu pertemuan kita yang singkat. Sejak saat
itu aku sudah tak berani lagi untuk sekedar menatapmu terlalu lama, aku benci
harus menunggu lama, suatu yang sudah sekian waktu ingin aku ungkap pada mu.
Ya,, sebuah catatan kecil yang sudah sekian lama aku simpan dalam hati. Catatan
yang selalu menututku untuk tidak mencoba medekatimu seperti biasa, meski aku
tak tau seberapa pantas aku untuk mengatakan semua ini. Namun aku yakin, untuk
semua risalah yang belum sempat aku jabarkan di depanmu, tuhan lebih tau
nantinya.
Namun
di sini, di suatu titik yang masih tak pasti aku selalu meneriakkan namamu
dalam hati. Agar tuhan tahu aku sudar terlalu rampuh untuk tidak mencintaimu.
Maka izinkan aku menuturkan sebuah risalah tentang pertemuan kita yang singkat
dulu.
06
Juni 2012, merupakan sebuah sejarah baru bagiku di tanggal ini, adalah hari
kemerdekaanku dari sebuah duniaku yang dulu. Di tanggal ini aku akan mejadi
sesuatu yang lebih beda dari kemaren, dan di tanggal ini pula pertama kali aku
langkahkan kaki di pagi hari sebagai seorang yang beridentitas seorang
mahasiswa di suatu perguruan tinggi islam neggeri surabaya (IAIN). Ada sedikit
banyak kebanggaan di hati ketika titel akademik itu aku sandang yang dulunya
hanya seorang siswa kini sudah menjadi maha siswa. Kerena bagiku gelar maha itu
sebuah suatu kemulyaan yang tak terukur, meskipun tanggu jawabnyapun lebih
besar dan lebih berat dari pada seorang siswa, tapi itulah maha, gelar maha itu
hanya milik tuhan, jadi begitu mulya dan besarnya kita ketika kita memiki gelar
itu, seakan kita menyaingi tuhan dengan gelar itu, meski dalam hakikat sebanarnya hal itu masih cukup jauh
dari dia sang maha segalanya.
Ini
lah saat petama aku duduk dengan semua orang dari penjura tempat yang berbeda,
dengan bahasa yang berbeda pula. Dan ini adalah catatan merah petama yang
pernah aku lakukan. Aku harus di tuntut untuk berbaur dengan manusia dari
sepesias yang sama namun beda jenis ya itu wanita. Maaf bukan maksudku untuk
sok alim atau sok suci dan segalanya di sini. Tapi jujur saja, enam tahun aku besar di lingkungan pesantren
dengan kultur dan peraturan yang begitu ketat, laki-laki dan wanita yang bukan
muhrim di larang bergaul. Ada dinding pemisah yang begitu kuat memisahkan dua
sepesies ini di dalam dunia pesantren. Sehingga maklumlah untuk yang pertama
kali aku melakukan dosa yang sangat di larang dulu. Aku merasa gugup dan tak
enak diri, ketikan aku harus duduk berdekatan dengan yang namanya wanita, dan
di sinipula aku seperti orang gila, di sini di duniaku yang baru, aku terasa
amat berbeda dengan teman-teman laki-lakiku yang yang lain. Mereka begitu
akrabnya bicara gobrol ngarul ngidul dengan teman-teman wanitaku di dalam kelas
sambil menuggu dosen datang. Sementara aku seperti orang kebingungan tersesat
di hutan Amazon. Tak tahu harus bagai mana…
Dan
anehnya lagi apabila aku di sapa teman-teman cewekku dikelas aku sepeti di
sengat listri, kebingungan dengan suara dan bahasa yang kacau terkadang aku
jawab. Sehingga aku di kelas terutama oleh teman-teman cewekku di bilang
simisterius. Ya..maklumlah aku mimang jarang bicara sama meraka tak seperti
teman temanku yang lain yang sudah terbiasa dengan jenis dosa macam ini.
Aku
bilang ini dosa , kerena aku tak bisa seperti mereka, andai kata aku bisa seperti
teman-teman cowokku yang lain mungkin ini suatu nikmat yang harus aku sukuri.
Mana ada orang di dunia ini apalagi yang namanya laki-laki tak mau sama wanita
dan dekat-dekat sama mereka, seperti kata pepatah madura “tadek koceng se tak endhek ka jukok” (tak ada ceritanya kucing yang
tak mau sama ikan).
Tapi
untukku itu agak bisa di maklumi, karena dari semua teman-teman laki-lakiku
Cuma aku sendiri yang berlatar belakang pendidikan di pesantren, dan dari segi
tempat tinggal hanya aku sendiri yang dari desa di sebuah kepulawan, yaitu
Madura.
Ada
semacam tugas tambahan bagiku di awal pertama masuk kuliah, yaitu agar
secepatnya aku bisa menyesuaikan diri
dengan dosa-dosa macam itu..
Dan
kamu tahu, dari berbulan-bulan penderitaan di tengah keterasingan di lingkungan
sendiri, ternyata perjuanganku tak sia-sia..aku sudah seperti tak asing lagi dengan
namanya dosa macam itu lagi..
Dan
saat ini, saat aku tulis catatan ini aku sedang berusaha untuk melakukan dosa
yang lebih besar lagi. Aku ingin mempersunting seorang bidadari yang dulunya
aku anggap setan pada saat pertama kali aku masuk kuliah, dan saat pertama aku
bertemu dengannya.
Kini
Bagiku dia adalah bidadari kecil yang selalu bersenandung tentang cinta, dan
keindahan di pelupuk mataku. Aku ingin meminangnya seperti aku meminang malam dalam kesendirian
ku dulu,, akan aku jadikan dia purnama di stiap malamku. Agar malam-malamku tak
lagi sepi. Dan Biarlah setan berpesta dengan kemenangannya, dan biarkan
malaikat menangis melihat si alim terjerumus dalam dosa, aku sudah tak pedulu.
Aku akan tetap sperti ini, gila untuk selalu mencintainya, seperti kegilaanku
pada tuhan pada setiap sujudku dulu..
Surabaya
20 April 2013
Posted by , Published at 08.34 and have
0
komentar




