Gadis Pantai Dan Feodalisme

Gadis Pantai Dan Feodalisme



  
"mengerikan bapak,mengerikan kehidupan priyai ini...
seganas-ganasnya laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi..
ah tidak, aku tidak suka pada priyayi. gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka.
neraka tanpa perasaan"
-Pramoedya Ananta Toer

Menghitung mundur waktu, seperti kita akan melihat kembali serpihan sejarah yang sempat menjadi momok kehidupan ini. Kita akan banyak belajar, bagai mana sejarah neggeri kita ini di bangun dan seberapa banyak orang harus di korbankan demi terbentuknya sebuah Negara kesatuan. Namun itulah konsekwensi sebuah berdirinya Negara yang berdaulat, meski harus banyak nyawa, dan rasa kemanusiaan harus di korbankan. Benar kata Gus Mus dalam puisinya, bahwa kita sudah lebih dari sekedar binatang, kita telah tega memangsa saudra kita sendiri hanya demi atas nama kemanusiaan.
Di sini dalam sebuah buku yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai, merupakan sebuah potret kecil yang ingin di sampaikan oleh penulis tetang bagai mana kebusukan dan ke tidak beradaban kaum priai jaman penjajahan dulu, hanya demi kuasa dan harta dia rela menggadaikan nasib saudara setanah airnya untuk di perbudak oleh kaum kaum penjajahan belanda. Dan di sini mereka sendiri tega menjadi penjajah di Negara sendiri, menindas kau melarat, mereka layaknya kaum borjuis pada masa MAxsis. Di mana mereka menggunakan kekuasaan dan harta yang mereka miliki untuk menindas bangsanya sendiri. Sementara mereka seperti anjing yang terus menjilat-jilat tangan mejikannya ketika berjumpa dengan para kaum penjajah asing.
Ada semacam kehilangan moral yang akut pada para kaum priai kita pada masa penjajahan dulu, meski tak semua seperti itu. Dan di dalam buku gadis pantai ini pram coba mengusik hal semacam itu, yang sudah terasa biasa pada saat itu, dia coba usik kebiasaan yang sebenarnya tabu dan sangat memalukan itu. Dengan sebuah roman yang begit menawan, yang mana dia ceritakan gadis pantai ini sebagai seorang gadis yang manis, lahir di kampong nelayan di jawa tengah, kabupaten rembang. Gadis yang cukup cantik untuk memikat seorang pembesar santri setempat, seorang jawa yang bekerja untuk belanda.
Dan suatu saat gadis pantai itu di nikahi oleh sang pembesar santri tersebut, mulanya, pernikahan tersbut memberikan prestise baginya selaku wanita biasa. Bagi kampungnya karena dia sudah di pandang di naikkan derajatnya, menjadi istri seorang priai, pebesar kaum santri. Namun itu tak berlangsung lama. Sampai dia di campakkan oleh sang pembesar santri, sehingga dia terjerumus dalam jurang yang dulu penah dia lakukan yaitu penjadi pemuas seks. Sementara untuk pulang kerumahnya. Di desanya dia malu.
Roman ini telah secara tidak langsung, mencoba memberitahukan tentang bagai mana kaum priai yang selama ini di lingkungan kita yang seakan selalu di nomer satukan itu, berlaku sedemikan rupa. Dan kita sudah sedemikian seakan menuhankan mereka, dengan selalu harus di tuntut untuk selalu menghormat dan membungkukkan badan tiap kali kita bertemu dengan mereka. Sementara terkadang realitas tidak seratus persen membuktikan bahwa mereka semua morni, dan tidak gila hormat.
Di sinilah ke lebihan roman ini, bagai mana dia, menusuk feodalisme jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung kejantungnya yang paling dalam.
Meski secara nilai ilmiah tulisan ini butuh kajian yang lebih dalam lagi karena bentuknya yang bukan merupakan kajian atau semacam karya ilmiah, namun semua ini tak lepas dari pengamatan penulis buku ini sendiri bagai mana melihat keadaan social kaum priai pembesar kaum santri pada masa itu.  

Surabaya 15 April 2013



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 08.21 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: