
Pukul 12:30 pas merupakan bagian dari kisah ini. Pada saat itu angin yang biasanya bertiup sepoy-sepoy tiba-tiba berubah agak begitu kencang, meniup dedaunan yang menggugur pada musim kemarau, awan bergulung-gulung bagaikan gelombang yang sedang menerjang kapal-kapal diatasnya. Kisah sebelum hujan, bukanlah kisah Yusuf dan Zulaikha, juga bukan kisah Siti nurbaya. Gemuruh suara adzan dzuhur, kisah ini dimulai, pada saat itu, cuaca tak begitu bersahabat, gurat-gurat cemberut nampak di sekitar pelipis wajahnya. Seakan ingin mengulung apapun di depannya. Dengan langkah penuh semangat aku ayunkan kakiku, menapaki jalan-jalan di pematang sawah, dengan rerumputan yang meranggas tanpa setunaspun kehidupan yang nampak terlihat di seluruh penjuru, yang ada hanyalah pepohonan gundul tanpa daun, karna musim kemarau yang brkepanjangan. Langkah semangat yang tadinya membara kini sedikit demi sedikit sirna oleh panasnya sinar mata hari, sebelum awan-awan itu meyelimuti sinar matahari. Namun meskipun begitu awan-awan itu tak dapat sepenuhnya menghilangkan panasnya matahari, karena sangat nakalnya matahari masih mencoba mencari celah-celah dari pada awan yang sedang marah. Detik-detik waktu pun bertambah. Bertambah pulalah rasa lelah dan keringat menghiasi perjalan pulang.
Tetes-tetes air hujan menjatuhkan diri keseluruh penjuru, menabur benih-benih kehidupan, penghias dunia. Tubuh yang tadinya penuh dengan cucuran peluh, kini berganti menjadi tetesan air hujan, tanah-tanah kering kini melumpur, kehidupan kembali menghiasi bumi tumpah darahku, kubangan-kubangan kecil tercipta diantara kerikil-karikil yang membisu dalam dekapan hujan. Tubuh yang kering terguyur air hujan membasahi seluruh tubuh. Sekoyong-koyong aku melangkah sambil mencari tempat berteduh. Tak berapa lama kutatapi sebuah pohon akasean yang di temani oleh alang-alang kering melambai-lambai, aku mendongeng sekedar penghangat dalam hujan. Kodok-kodok yang membisu, sekarang sudah bersahutan menyambut datangnya rahmat, di balik misteri kemarau.
Pukul 01:40, tanpa terasa sekat-sekat dalam penglihatan terlintas sosok gadis sedang bermain hujan, tubuhnya yang ramping seakan terlihat dari kejauhan, bibirnya merah delima membuat malu kabut-kabut untuk menutupinya. Andaikata secawan anggur manis, namun kemanisan wajahnya tak dapat di ibaratkan dengan itu. Gadis itu terus berlarian, seakan bercanda gurau dengan rerintikan air hujan di penghawal musim. “apakah itu bidadari?” sekelupas tanya tebayang di hatiku. Gadis secantik, semanis, dan sesempurna dia. “Apakah dia bidadari, ataukah zulaikha?” Kemisteriusan dalam hujan seakan menabur sejuta tanya dalam hatiku, membuat kaki ini melangkah tanpa komandu dari bawah pohon akasean yang sudah menjadi korban panasnya musim kemarau. Derap langkah kakiku menuju gadis yang sedang bercanda gurau di awal musim hujan ini. Tatkala aku sampai didekat gadis itu, tiba-tiba seutas senyum ia lepaskan untukku: aku tak mengerti,.karena sejak tadi dia telah kehujanan, tampak dari wajahnya yang bundar bagaikan bulan purnama, agak-agak pucat. Rasa kasih pun muncul dari hatiku, ku buka jaket yang sejak tadi ku pakai, sembari membalutkannya pada tubuhnya. Seuntai senyum kembali ia berikan padaku. “Siapakah gadis ini?” pertanyaan-pertanyaan terus keluar dari hatiku, serhingga akun tak kuasa menahannya untuk bertanya. Siapakah dia. Apakah “kamu bidadari di awal musim?” Namun, dia hanya menggeleng. “Apakah kamu Zulaikha?” Namun dia kembali menggeleng. “Lalu kamu siapa?” pertanyaan terakhirpun terlontar dari mulutku, namun semuanya membisu. Juga gadis itu. Semua kehidupan seakan behenti, mendengar pertanyaanku pada gadis itu. Namun tiba-tiba dari kelopak mata sang gadis, jatuh setetes air. Rasa menyesal telah bertanya membuat hatiku pilu. Tanpa berita, tanpa ucap kata, sebilah pisau dia hujamkan pada perutnya, gerakan tangannya yang sangat cepat, tak mampu ku hentikan. Pisau itu pun menusuk perutnya, cairan merah agak kehitam-hitaman dari perut membasahi reremputan tak bertunas, membingkai kembali kisah pedih atau senang yang selama ini ia alami. Aku hanyalah penonton, tak biasa berbuat apa-apa, yang ku bisa hanyalah melihat dan meratapinya dalam sudut semu saja. Apakah terlalu kejam kehidupan yang dia alami, sehingga ia mengakhirinya dengan jalan seperti ini?, akankah ini kekejaman cinta? Sejuta kisah cinta terus mendongeng dan menjadi roman yang memilukan bagi dirinya.
Guluk-Guluk, 08 Desember 2007
Posted by , Published at 17.40 and have
1 komentar



