akankah hari esok masih milikku?

akankah hari esok masih milikku?


AKANKAH HARI ESOK UNTUKKU?
(Memoar seorang kakek di ujung senja)
Cerpen M. Riski

Masih ingatkah engkau pada hamparan padi dan kepak sayap burung yang mematuki buahnya, ingatkah engkau saat mandi telanjang di sungai sambil tertawa cekikikan mengejar ikan kecil untuk kau tangkap dan masih ingatkah engkau saat kita berebutan anak burung di atas pohon nangka yang tinggi tanpa takut terjatuh. Enam puluh tahun sudah berlalu, waktu yang cukup lama namun terasa begitu cepat berlalu. Semua sudah terasa berbeda dari dahulu waktu aku masih anak-anak sampai sekarang. Perbedaan begitu jelas aku lihat dan aku rasakan. Sebenarnya aku tak peduli dengan perbedaan sekarang dan dulu, namun aku merasa kehilangan alamku sendiri, seakan-akan aku terdampar di suatu alam yang asing. Karena semua terlalu cepat berjalan tanpa proses yang pasti dan jelas. Semua seperti sihir.
***
Sore itu tanpa aku niatkan sebelumnya, Aku mengajak cucuku yang masih berusia sekitar sembilan tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar, untuk sekedar berjalan-jalan mengitari desa. Guna mengecangkan urat-urat tubuhku. Sudah lama aku tak keluar rumah sejak isteriku meninggal. Ya! Anak-anakku dan keponakanku mungkin terheran-heran ada apa denganku. Tiba-tiba mengajak Irfan, anak dari anak ketigaku. Memang aku dan istriku dikarunia empat anak, dua perempaun dan dua laki-laki dan aku tinggal bersama anak pertama dan anak ketiga, sebab hanya mereka berdua yang tidak berkeluarga orang dari luar kota sementara kedua saudara mereka berkeluarga dari luar kota. Entah bagaimana kabar mereka sekarang. Aku yakin mereka heran namun mereka tak berani bertanya apa-apa padaku. Hanya memandang penuh selidik saja.
Sesampainya di pematang sawah dengan tumbuhan padi yang sudah menguning. Tak lama lagi padi-padi ini sudah siap untuk dipanen, tampak baunya yang khas menyusup ke hidungku. Di pematang sawah ini aku serasa diajak kembali ke masa kecilku dulu, saat Lumpur adalah teman bermain yang menyenangkan. Walau semua tak sama persis seperti dulu, alat pembajak sawah yang dulu menggunakan tenaga kerbau dan sapi kini sudah berubah traktor.
“Cucuku, apakah kau pernah bermain perang lumpur?” Aku coba buka percakapan karena cucuku seperti bosan mengikuti aku.
“Tidak!” jawabnya singkat.
“Lantas apakah kau tak pernah mau bermain perang-perangan? Padahal itu sangat menyenangkan, apalagi kalau di tengah sawah seperti ini”
Dengan nada heran aku bertanya kembali.
“Mau kek, tapi aku tidak mau main dengan Lumpur, karena menjijikkan dan tak ada teman yang mau menemaniku bermain. Lebih asyik main Video Game di rumah!”
Aku hanya bisa menarik nafas mendengar jawaban cucuku. pantas saja sejak aku kembali ke desa kelahiranku setelah delapan tahun yang lalu sebelum kematian istriku dari rantau. Aku tak pernah melihat anak-anak bermain lepas di alam, seperti aku dulu. Aku lanjutkan langkahku dengan cucuku dari sawah menuju sebuah bukit kecil yang tampak di sebelah utara pematang sawah, jaraknya sekitar 2 kilometer. Bukit kecil yang ditumbuhi bermacam-macam pohon cukup lebat, sehingga kalau dilihat dari tengah pematang sawah bagaikan segunduk batu yang berlumut. Hijau kehitam-hitaman.
Di bukit inilah dulu aku sering berburu burung dengan ketapel kesayangan yang selalu menggantung di leher. Kalau aku kelelahan maka aku akan tidur di bawah pohon jambu yang tumbuh di tengah bukit itu. Alangkah sejuk angin membelai rambutku dengan manja.
“Cucuku, apakah kau pernah punya ketapel?”
“Tidak, kalau pistol-pistolan laser aku punya”
“Dan apakah kamu pernah tidur-tiduran di bawah pohon jambu yang lebat daunya dengan rumput yang tebal menghampar di bawahnya?”
“Tidak kek, takut kotor dan gatal-gatal sekujur di tubuh”
“Pernahkah pula kau bermain kuda-kudaan dengan pelepah pisang dan kejar-kejaran dengan teman-teman mu sambil tertawa riang?”
“Tidak juga kek, semua yang kakak tanyakan tak ada yang menyenagkan untuk aku mainkan” dengan agak kesal cucuku menjawab semua pertanyaanku. Mungkin aku di kira seperti seorang polisi yang mengintrogasi tersangka criminal.Entah!
Semua sudah berbeda walau tampaknya tetap sama. Saat aku melihat sawah, sungai, bukit dan lembah seakan ingatanku disedot kembali pada enam puluh tahun yang lalu, saat tempat-tempat ini adalah surga bagiku. Namun saat aku melihat cucuku dan keadaan sekarang aku diajak masuk ke dunia lain yang tak pernah aku singgahi. Semua terlalu asing untuk aku pahami. Tanpa aku sadari kehidupan telah berubah sembilan puluh sembilan persen dari dulu. Inikah yang dikatakan globalisasi? Entah!
Tak terasa bayang hitam malam telah menggelayuti bukit dari ufuk barat, dengan seluet senja yang indah. Aku ajak cucu kecilku untuk pulang. Dan memejamkan mata untuk menanti hari esok yang entah apa terjadi. Namun besok aku harap dunia akan kembali seperti dulu saat aku kecil. Walau aku tak tahu pula masihkah mata ini akan terbuka untuk hari esok?
KCN, 28 Maret 2011


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 07.34 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: