
Mama, kisah ini bukanlah mimpi yang terselubung dalam jiwa, ini adalah kepedihan hati yang menjadi sembilu bertaring, menyayat apapun di hadapannya, kisah kenangan ini telah hilang bagai di telan gelombang lautan, kenangan di bawah pohon akasean merajut kebahagiaan denganmu mama, kenangan tinggallah kenangan, takkan mungkin dapat terulang dalam kenyataan, sungguh pahit terasa lidah ini menyicipi empedu yang menyerupai air susumu mama. Akan tetapi, kasihmu yang murni tak dapat ternodai oleh getah kehidupan, kau tetaplah bidadari senja yang menabur kasih di jiwaku, dan menyirami hati ini dengan senyum kelembutan hatimu. Kehalusan bahasamu telah menabur sejuta bahasa kasih dalam lisan ini. Biarlah senja tenggelam dalam porosnya sendiri, tapi semua budi baikmu tak dapat kulupakan sepanjang nyawa masih bersemayam dalam badan ini, biar kata semua orang mencemoohmu dan mengataimu seperti apapun, tapi kesejatian cintaku akan tetap kupancarkan padamu, sebagai balas budiku kepadamu mama.
Ini bukanlah roman picisan tentang seorang anak dan ibunya, melainkan sebuah roman nyata yang akan menjadi prasasti maha penting, sebagai penghias selurauh jagat raya yang akan selalu menjadi saksi kesucian cintamu padaku. Kau pernah berpesan sebelum kau pergi “Jangan pernah menyerah pada cobaan, anakku, karna cobaan adalah gerbang kesuksesan” nasehat dan perkataanmu itu tak kan pernah pudar dalam hatiku, aku selalu mengingatnya, karena kata-katamu adalah mutiara kehidupan yang akan selalu benar keberadaannya, tak terkecuali saampai akhir masa nanti. Mama! Kini aku menantimu, menanti belaian cinta kasihmu yang sejak dulu kau belaikan padaku, tapi kenapa sekarang kau pergi meninggalkan aku dalam kesendirian dan senyapnya malam yang dingin sekaligus panasnya sinar matahari?, telah ku coba untuk mencarimu dalam lekuk-lekuk lorong kehidupan, namun tak pernah ku temui walau sekilas bayangmu saja, ingin rasanya aku bertariak sekuaat tenaga memanggil namamu, tapi malah mulut ini membisu tak kuasa menahan tangis kerinduan dalam dada ini. “Mama…..dimanakah kamu?” seru hati ini tanpa tenaga coba meraih semangat yang sudah terbang melambung tinggi di angkasa, tapi semua itu percuma saja, nasi telah menjadi bubur yang membusuk dalam perut mengempis, lantaran memikirkan dirimu dalam kesendiranku ini.
Malam-malam aku berjalan menyusuri jalan tak berpenghujung meski kaki ini terasa berat melangkah, tetap kupaksakan hanya demi sebuah perjumpaan yang selama ini di renggut oleh perpisahan. Bias-bias wajahmu mama, selalu terbayang di pelupuk mataku yang sudah enggan terbuka, namun ku tahan. Bayang-bayang rembulan terus menyelinap dalam celah lubang bajuku yang telah kusam, seakan ingin memperlihatkan tonjolan-tonjolan tulangku kapada nyamuk-nyamuk nakal yang sedang berkeliaran: mencari setetes darah, sebagai tumbal kebiadabannya. Tapi mereka seakan enggan untuk melihat apalagi untuk menyicipi darahku, mereka tahu kalau darahku tidak enak dan kotor. Karena rasa lelah yang sangat aku tidur dengan beralaskan bumi dan berselimutkan awa, sekaligus berpenerangkan rembulan, dalam tidur lelapku terasa aku pergi ketempat yang sangat indah, didalamnya penuh dengan bunga seroja berlambaian, seakan sedang berpesta-pora dalam dinginnya malam ini. Tiba-tiba aku teringat namamu mama, akupun terabangun dalam mimpi indahku. Saat kedua mataku terbuka, kulihat wajahmu dalam terangnya sang rembulan sambil melambaikan tangan untukku, saking tak kuasa menahan rasa bahagia atau sedih. Aku meneteskan air mata rindu yang selama ini telah bersemayam dalam jiwaku, ingin rasanya aku memeluk tubuhmu, tapi lorong waktu terlalu kejam, memisahkan kita berdua. Kini yang kubisa hanyalah mendoakanmu semoga bahagia dan damai disana. Suatu hari nanti aku akan menyusulmu dan menemanimu.
Guluk-Guluk, 23 Nopember 2007
Moh. Riski, lahir di Sumenep, 02 Pebruari 1993.
Asisten Kehormatan 1 “Komunitas Cinta Nulis”
PP Annuqayah -Lubangsa Selatan-
Guluk-Guluk Sumenep Jawa timur
Posted by , Published at 17.37 and have
0
komentar



