"Bapak, aku mohon do’a restumu”
“Ia anakku, do’a dan restuku akan selalu menyertaimu.” Saat ku tatap wajah Bapakku agak begitu layu, bagaikan tak punya semangat dan tenaga. Akankah kepergianku untuk kuliyah ke luar kota inilah yang menjadi penyebab murungnya wajah Bapakku, padahal dia orangya periang dan tak pernah kulihat wajah Bapak memurung kecuali sekarang ini. Sungguh berat aku meninggalkan Bapakku hidup sendiri di desa. Maklum, ibuku sudah lama menginggal dunia, sehingga Bapak sekarang menduda. Pada saat kematian Ibu itulah Bapak hanya hidup denganku, bukannya aku tidak menyuruh bapak menikah lagi, padahal usianya pada saat itu masih cukup muda, tapi bapak tidak mau menikah lagi, katanya takut Ibu tiriku nanti tidak akan menyayangiku seperti Ibu asliku. Aku tahu bapak sangat menyayangiku lebih dari apa saja yang ia cintai, sehingga ia tidak ingin menyinyia-nyiakanku.
Meski pekerjaan bapakku sangat berat, namun dia tidak lupa meluangkan waktunya untukku. Maklum, bapakku adalah seorang penjual sapu lidi, sehinga ia harus berkeliling untuk menjajakan jualannya. Semua itu ia lakukan demi masa depanku. Anaknya. Agar tidak sepertinya: menjadi orang melarat. Namun usaha dan jerih Bapak yang bapak lakukan tidak percuma, karena dia sudah bisa menyekolahkanku. Itu adalah berkat jerih Bapak dan tetesan air peluh yang tak pernah kering walau musim kemarau berkepanjangan, hanya keringatnyalah yang tak pernah surut mengalir. Kini tinggallah giliranku untuk membuktikan bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia. Akan aku buktikan kalau harapannya akan tercapai.
“Aku berangkat dulu ya, Pak!”
“Berangkatlah. Tapi ingat! Jangan pernah tinggalkan shalat di sana”
“Baik Pak!”
Derai air mata tak dapat ku bendung lagi, saat kaki melangkah meninggalkan kenangan yang sulit ku hapus dalam benak ini. Sekilas aku menoleh ke belakang, terpampang sesosok wajah sedang memandangi kepergianku, tampak dari pelipis matanya menetes kilauan mutiara-mutiara kasih yang tak pernah sirna karena mutiara itu adalah mutiara kasihnya padaku. Cukup lama sudah aku melangkah menyusuri jalan yang terhimpit pematang sawah. Sampailah aku di bandara. Tanpa tolah-toleh lagi aku langsung naik kedalam pesawat yang sudah tersedia. Kenapa aku tidak menoleh ke belakang sedikitpun? Karena aku takut melihat bapak untuk yang terahir kalinya. Kelihatannya, bapak mengikutiku waktu aku berangkat, tapi tak aku hiraukan. Bukannya aku kejam. Aku sangat menyayanginya dan aku tak ingin bapak merasa kehilangan atas kepergianku. Semua ini karen waktu yang terus berlalu. Sesampainya di pintu pesawat, tak kuasa hati ini membiarkan bapak memandangiku, sementara aku mengabaikan keberadaannya. Aku menolehkan kepalaku kebelakang, tak terasa, tetes demi tetes air mataku berlinang membasahi langkah perpisahanku dengannya.
“Bapak…!”.
Saking tak kuasa aku menahan rasa sedih, karena harus berpisah darinya. Aku berteriak memanggil namanya, sembari berhambur turun dari atas tangga pesawat terbang yang aku kendarai. Kupeluk tubuh orang yang sangat aku sayangi. Bapakku.
“Bapak! Aku harap bapak jangan bersedih”
“Bapak tidak bersedih. Tapi bapak tidak ingin menjauh darimu”
“Aku juga begitu Pak! Tapi semua itu harus terjadi demi masa depan”
Tetesan air mata membasahi pelupuk mata bapakku dan juga mataku, sembari berpelukan sebagai pelukan perpisahan, jaga curah limpah kepedihan kami atas parpisahan ini.
Baru beberapa hari aku di Jakarta, sudah banyak teman-teman yang cukup baik padaku. Rata-rata mereka senasib denganku. Mereka semua berasal dari keluarga yang tak mampu. Tapi karena semangat mereka yang sangat menggelora untuk sekolah ke kota tercapai, meski harus menjual harta beda mereka. Contahnya Yayat. Dia berasal dari desa Lancaran. Dia bisa melanjutkan sekolahnya karena menjual sawah satu-satunya, warisan kedua orang tuanya sebelum meninggal dunia, sehingga mau-tidak mau dia harus menetap di Jakarta. Karena di kampungnya dia sudah tidak punya sanak keluarga. Kini hidupnya tergantung kepada hasil menjual koran setiap pagi, sebelum kuliyah. Dan masih banyak lagi teman-teman satu kosku yang senasib denganku: sama-sama tidak cukup mampu. Namun semua bisa ke Jakarta hanya berbekalkan tekad dan uang seadanya. Itupun hasil dari menjual tanah warisan. Ada juga yang sampai menjual rumahnya. Hanya demi mengejar cita-cita yang di impi-impikan sejak kecil.
Sudah dua tahun kiranya aku tinggal di Jakarta, tanpa bapak. Tiba-tba perasaan rindu timpbul dari hatiku membuat rasa tak betah tinggal di kota mendorongku untuk pulang menemui bapak di kampung. Perasaan ini selalu berkecamuk dalam hatiku, sehingga aku pulang ke kampung tempat lahirku. Kepulanganku sangat membahagian bapak, peluk cium dan tangis kebahagiaan mewarnai kepulanganku. Tak ku sangka rindu bapak selama aku berada di Jakarta sampai begitu menggebu. Lama kelamaan, suasana yang tadinya penuh dengan tawa dan sunyum tiba-tiba membisu kaku. Saat ku pandangi bapak sedang duduk sambil merundukkan kepalanya diatas meja yang sudah lapuk, namun masih mampu menumpang tubuh itu, meski agak reyot. Pandangankupun terus ku arahkan ke arah bapak yang sedang membisu. Tiba-tiba wajah Bapakku terkesiap ketika kupandangi air mata menetes dari pelupuk matanya. Rasa heran tiba-tiba menganga dalam hatiku. Apakah gerangan yang terjadi pada bapakku?.
“Pak! apa yang terjadi padamu, sehingga kau sesedih ini?”.
“Anakku! Sebenarnya bapak ingin membeitahukannya padamu, tapi apa boleh buat. Sebenarnya uang yang kamu pakai untuk kamu kuliyah adalah uang hasil minjam pada rentener, bukan hasil menjual sawah, dan kemaren itu sudah di tagih”.
Sungguh kaget hati ini serasa tak punya semangat lagi, setelah mendengar pernyataan dari bapak, kalau biaya yang selama ini aku pakai untuk kuliyah adalah hasil ngutang pada rentener, dan sekarang sudah di tagih dengan bunga yang banyak.
“Tapi jangan kawatir anakku, karena melihat semangatmu, Bapak yakin kalau Bapak bisa melunasinya”.
“Tapi mau bayar dengan apa?”
“Bapak masih kuat untuk bekerja. Tapi jangan kecewakan bapak”
Berkat dorongan dan semangat Bapak, gairah juangku yang tadinya mengendor, ahirnya mengencang kuat kembali, sembari membentangkan sayap-sayap semangat yang membara. Kini dinding penghalang telah hancur berkat dorongan dari seorang bapak yang selama ini telah membesarkanku. Andaikata saat ini, detik ini, Ibu berada di sampingku, pasti beliau sangat bahagia atas semua ini, namun sayang! Beliau sudah tiada.
***
Sesampainya di Jakarta, kutata semua program kerja sehari-hariku, mulai dari belajar, santai dan lain-lainnya. Aku lakukan ini agar tidak banyak waktuku terbuang begitu saja, sebagaiman kata pepatah lama: waktu adalah uang.
Hari senin itu, saat aku datang dari kuliyah, semua teman-temanku duduk lesu dengan wajah yang agak pucat tanpa gairah.
“Tumben kalian murung dengan wajah pucat seperti itu!”
Saat ku rasa mareka tak satupun ada yang bergeming mengeluarkan kalimat sepatahpun, rasa penasaran membakar jiwaku.
“Lebih baik kau pulang saja!” tiba-tiba Syukron mengeluarkan kata-kata, walaupun hanya sepatah saja. Meski begitu, aku tetap tidak mengerti apa yang ia katakan.
“Untuk apa aku pulang lagi? Aku baru pulang kemaren” balasku.
“Sudah! Jangan banyak tanya lagi, ini ongkosnya”
“Tapi bagaiman dengan kuliyahku Syuk…?!”
“Tenanglah! akan aku izinkan”
Aku pulang dengan membawa sejuta tanya yang menggumpal di hati. Mengapa tiba-tiba mereka menyuruhku pulang? Padahal, mereka paling tak senang kalau aku pulang, katanya tidak ramai kalau tidak ada aku. Tapi kenapa mereka sekarang menyuruhku pulang dan, memberi uang ongkos pula.
***
Rasa kaget serasa membeludak ketika ku lihat bendera kuning dan kerumunan tetangga di depan rumahku. “Memangnya ada yang meninggal? Ataukah Bapakku telah meninggalkanku?” batinku. Rasa penasaran membuat langkahku semakin cepat menuju rumah. Sesampainya di pintu rumah yang terbuat dari kayu rapuh karena sudah bertaun-tahun lamanya tak pernah di ganti oleh bapak, semua mata memandangiku dengan penuh rasa bela sungkawa, rasa tak kuasa menahan tanya Apakah gerangan arti dari sorot pandang para tetangga. Membuat aku terus melangkah dengan perlahan.
“Bapak! Bapaaak, Bapaaak...!”
Rasa kaget tak dapat kuselipkan lagi, setelah kulihat sosok tubuh berbaring kakku di bungkus kain kafan dengan semerbak aroma bunga setaman. kubuka kain penutup yang membalut kepala jasad kaku itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ra Ji’un. “Ayat-ayat cinta ” pun di kumandangkan saat ku lihat wajah bapak sekaligus jasad yang mengkaku berbalut kain putih, sembari menyunggingkan senyum, adalah bapakku. Kini bapak telah pergi tanpa kupersembahkan apa yang beliau pinta. Hanya air mata dan doaku yang akan terus mengalir deras menyertai bapak kehadapan yang maha kuasa. Bapak pergi dengan membawa harapan yang belum tercapai. Tapi aku berjanji akan mewujudkan keinginan dan harapan bapak, sebagai tanda hormatku atas perjuangannya selama ini.
Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi di ridlai
Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaku
Maka masuklah kedalam sorgaku
(Q.S. Al-Fajr: 27-30)
Guluk-Guluk, 2008
“Ia anakku, do’a dan restuku akan selalu menyertaimu.” Saat ku tatap wajah Bapakku agak begitu layu, bagaikan tak punya semangat dan tenaga. Akankah kepergianku untuk kuliyah ke luar kota inilah yang menjadi penyebab murungnya wajah Bapakku, padahal dia orangya periang dan tak pernah kulihat wajah Bapak memurung kecuali sekarang ini. Sungguh berat aku meninggalkan Bapakku hidup sendiri di desa. Maklum, ibuku sudah lama menginggal dunia, sehingga Bapak sekarang menduda. Pada saat kematian Ibu itulah Bapak hanya hidup denganku, bukannya aku tidak menyuruh bapak menikah lagi, padahal usianya pada saat itu masih cukup muda, tapi bapak tidak mau menikah lagi, katanya takut Ibu tiriku nanti tidak akan menyayangiku seperti Ibu asliku. Aku tahu bapak sangat menyayangiku lebih dari apa saja yang ia cintai, sehingga ia tidak ingin menyinyia-nyiakanku.
Meski pekerjaan bapakku sangat berat, namun dia tidak lupa meluangkan waktunya untukku. Maklum, bapakku adalah seorang penjual sapu lidi, sehinga ia harus berkeliling untuk menjajakan jualannya. Semua itu ia lakukan demi masa depanku. Anaknya. Agar tidak sepertinya: menjadi orang melarat. Namun usaha dan jerih Bapak yang bapak lakukan tidak percuma, karena dia sudah bisa menyekolahkanku. Itu adalah berkat jerih Bapak dan tetesan air peluh yang tak pernah kering walau musim kemarau berkepanjangan, hanya keringatnyalah yang tak pernah surut mengalir. Kini tinggallah giliranku untuk membuktikan bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia. Akan aku buktikan kalau harapannya akan tercapai.
“Aku berangkat dulu ya, Pak!”
“Berangkatlah. Tapi ingat! Jangan pernah tinggalkan shalat di sana”
“Baik Pak!”
Derai air mata tak dapat ku bendung lagi, saat kaki melangkah meninggalkan kenangan yang sulit ku hapus dalam benak ini. Sekilas aku menoleh ke belakang, terpampang sesosok wajah sedang memandangi kepergianku, tampak dari pelipis matanya menetes kilauan mutiara-mutiara kasih yang tak pernah sirna karena mutiara itu adalah mutiara kasihnya padaku. Cukup lama sudah aku melangkah menyusuri jalan yang terhimpit pematang sawah. Sampailah aku di bandara. Tanpa tolah-toleh lagi aku langsung naik kedalam pesawat yang sudah tersedia. Kenapa aku tidak menoleh ke belakang sedikitpun? Karena aku takut melihat bapak untuk yang terahir kalinya. Kelihatannya, bapak mengikutiku waktu aku berangkat, tapi tak aku hiraukan. Bukannya aku kejam. Aku sangat menyayanginya dan aku tak ingin bapak merasa kehilangan atas kepergianku. Semua ini karen waktu yang terus berlalu. Sesampainya di pintu pesawat, tak kuasa hati ini membiarkan bapak memandangiku, sementara aku mengabaikan keberadaannya. Aku menolehkan kepalaku kebelakang, tak terasa, tetes demi tetes air mataku berlinang membasahi langkah perpisahanku dengannya.
“Bapak…!”.
Saking tak kuasa aku menahan rasa sedih, karena harus berpisah darinya. Aku berteriak memanggil namanya, sembari berhambur turun dari atas tangga pesawat terbang yang aku kendarai. Kupeluk tubuh orang yang sangat aku sayangi. Bapakku.
“Bapak! Aku harap bapak jangan bersedih”
“Bapak tidak bersedih. Tapi bapak tidak ingin menjauh darimu”
“Aku juga begitu Pak! Tapi semua itu harus terjadi demi masa depan”
Tetesan air mata membasahi pelupuk mata bapakku dan juga mataku, sembari berpelukan sebagai pelukan perpisahan, jaga curah limpah kepedihan kami atas parpisahan ini.
Baru beberapa hari aku di Jakarta, sudah banyak teman-teman yang cukup baik padaku. Rata-rata mereka senasib denganku. Mereka semua berasal dari keluarga yang tak mampu. Tapi karena semangat mereka yang sangat menggelora untuk sekolah ke kota tercapai, meski harus menjual harta beda mereka. Contahnya Yayat. Dia berasal dari desa Lancaran. Dia bisa melanjutkan sekolahnya karena menjual sawah satu-satunya, warisan kedua orang tuanya sebelum meninggal dunia, sehingga mau-tidak mau dia harus menetap di Jakarta. Karena di kampungnya dia sudah tidak punya sanak keluarga. Kini hidupnya tergantung kepada hasil menjual koran setiap pagi, sebelum kuliyah. Dan masih banyak lagi teman-teman satu kosku yang senasib denganku: sama-sama tidak cukup mampu. Namun semua bisa ke Jakarta hanya berbekalkan tekad dan uang seadanya. Itupun hasil dari menjual tanah warisan. Ada juga yang sampai menjual rumahnya. Hanya demi mengejar cita-cita yang di impi-impikan sejak kecil.
Sudah dua tahun kiranya aku tinggal di Jakarta, tanpa bapak. Tiba-tba perasaan rindu timpbul dari hatiku membuat rasa tak betah tinggal di kota mendorongku untuk pulang menemui bapak di kampung. Perasaan ini selalu berkecamuk dalam hatiku, sehingga aku pulang ke kampung tempat lahirku. Kepulanganku sangat membahagian bapak, peluk cium dan tangis kebahagiaan mewarnai kepulanganku. Tak ku sangka rindu bapak selama aku berada di Jakarta sampai begitu menggebu. Lama kelamaan, suasana yang tadinya penuh dengan tawa dan sunyum tiba-tiba membisu kaku. Saat ku pandangi bapak sedang duduk sambil merundukkan kepalanya diatas meja yang sudah lapuk, namun masih mampu menumpang tubuh itu, meski agak reyot. Pandangankupun terus ku arahkan ke arah bapak yang sedang membisu. Tiba-tiba wajah Bapakku terkesiap ketika kupandangi air mata menetes dari pelupuk matanya. Rasa heran tiba-tiba menganga dalam hatiku. Apakah gerangan yang terjadi pada bapakku?.
“Pak! apa yang terjadi padamu, sehingga kau sesedih ini?”.
“Anakku! Sebenarnya bapak ingin membeitahukannya padamu, tapi apa boleh buat. Sebenarnya uang yang kamu pakai untuk kamu kuliyah adalah uang hasil minjam pada rentener, bukan hasil menjual sawah, dan kemaren itu sudah di tagih”.
Sungguh kaget hati ini serasa tak punya semangat lagi, setelah mendengar pernyataan dari bapak, kalau biaya yang selama ini aku pakai untuk kuliyah adalah hasil ngutang pada rentener, dan sekarang sudah di tagih dengan bunga yang banyak.
“Tapi jangan kawatir anakku, karena melihat semangatmu, Bapak yakin kalau Bapak bisa melunasinya”.
“Tapi mau bayar dengan apa?”
“Bapak masih kuat untuk bekerja. Tapi jangan kecewakan bapak”
Berkat dorongan dan semangat Bapak, gairah juangku yang tadinya mengendor, ahirnya mengencang kuat kembali, sembari membentangkan sayap-sayap semangat yang membara. Kini dinding penghalang telah hancur berkat dorongan dari seorang bapak yang selama ini telah membesarkanku. Andaikata saat ini, detik ini, Ibu berada di sampingku, pasti beliau sangat bahagia atas semua ini, namun sayang! Beliau sudah tiada.
***
Sesampainya di Jakarta, kutata semua program kerja sehari-hariku, mulai dari belajar, santai dan lain-lainnya. Aku lakukan ini agar tidak banyak waktuku terbuang begitu saja, sebagaiman kata pepatah lama: waktu adalah uang.
Hari senin itu, saat aku datang dari kuliyah, semua teman-temanku duduk lesu dengan wajah yang agak pucat tanpa gairah.
“Tumben kalian murung dengan wajah pucat seperti itu!”
Saat ku rasa mareka tak satupun ada yang bergeming mengeluarkan kalimat sepatahpun, rasa penasaran membakar jiwaku.
“Lebih baik kau pulang saja!” tiba-tiba Syukron mengeluarkan kata-kata, walaupun hanya sepatah saja. Meski begitu, aku tetap tidak mengerti apa yang ia katakan.
“Untuk apa aku pulang lagi? Aku baru pulang kemaren” balasku.
“Sudah! Jangan banyak tanya lagi, ini ongkosnya”
“Tapi bagaiman dengan kuliyahku Syuk…?!”
“Tenanglah! akan aku izinkan”
Aku pulang dengan membawa sejuta tanya yang menggumpal di hati. Mengapa tiba-tiba mereka menyuruhku pulang? Padahal, mereka paling tak senang kalau aku pulang, katanya tidak ramai kalau tidak ada aku. Tapi kenapa mereka sekarang menyuruhku pulang dan, memberi uang ongkos pula.
***
Rasa kaget serasa membeludak ketika ku lihat bendera kuning dan kerumunan tetangga di depan rumahku. “Memangnya ada yang meninggal? Ataukah Bapakku telah meninggalkanku?” batinku. Rasa penasaran membuat langkahku semakin cepat menuju rumah. Sesampainya di pintu rumah yang terbuat dari kayu rapuh karena sudah bertaun-tahun lamanya tak pernah di ganti oleh bapak, semua mata memandangiku dengan penuh rasa bela sungkawa, rasa tak kuasa menahan tanya Apakah gerangan arti dari sorot pandang para tetangga. Membuat aku terus melangkah dengan perlahan.
“Bapak! Bapaaak, Bapaaak...!”
Rasa kaget tak dapat kuselipkan lagi, setelah kulihat sosok tubuh berbaring kakku di bungkus kain kafan dengan semerbak aroma bunga setaman. kubuka kain penutup yang membalut kepala jasad kaku itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ra Ji’un. “Ayat-ayat cinta ” pun di kumandangkan saat ku lihat wajah bapak sekaligus jasad yang mengkaku berbalut kain putih, sembari menyunggingkan senyum, adalah bapakku. Kini bapak telah pergi tanpa kupersembahkan apa yang beliau pinta. Hanya air mata dan doaku yang akan terus mengalir deras menyertai bapak kehadapan yang maha kuasa. Bapak pergi dengan membawa harapan yang belum tercapai. Tapi aku berjanji akan mewujudkan keinginan dan harapan bapak, sebagai tanda hormatku atas perjuangannya selama ini.
Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi di ridlai
Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaku
Maka masuklah kedalam sorgaku
(Q.S. Al-Fajr: 27-30)
Guluk-Guluk, 2008
Posted by , Published at 01.43 and have
0
komentar



