Mahkota Katulistiwa

Mahkota Katulistiwa

Aku duduk hormat padamu di depan singgasana yang berdiri megah, sementara kau duduk di atasnya dengan berselendangkan zamrut katulistiwa dan bermahkotakan bintang-gemintang, dengan bintik-bintik embun di setiap sisinya, hingga tampak kewibawaanmu seakan menyamai pemimpin kita di sana. Pemimpin yang selalu mengobral janji dan sumpah palsu yang membuatku hendak muntah. Semenetara itu, mereka—rakyat yang tidak tahu apa-apa tentang janji-janji itu—terperangkap oleh kemanisan permainan kata-katanya, bagaikan penjual barang-barang bekas di pasar senin yang dikurumuni seikat Ibu-Ibu rumah tangga. Sungguh na'if nasib bangsa kita.
Di taganku tergenggam seikat bunga yang akan aku persembahkan untukmu, tapi jangan bilang-bilang kepada pemimpin itu, kalau aku memberimu setangkai bunga. Aku takut dia iri padamu dan memenjarakanku. Inikah hidupku dan hidupmu? Harus terkekang oleh kemauannya. Dulu kau sahabatku yang buta mata, bisu mulut dan tuli telinga. Tapi kau tidak buta hati, tidak seperti dia yang selalu mengobral janji dengan mulutnya. Namun setelah duduk di atas, malah menginjak-injak rakyat. Apakah itu yang dimaksud dari rakyat buat rakyat untuk rakyat? Seakan hati nurani mereka telah buta oleh harta dan tahta. Padahal mereka punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, namun hati mereka busuk.
Sahabatku yang terhormat waktu itu. Waktu di mana kau hidup dan tinggal di bawah atap dan dinding-dinding kardus. Aku sering bertanya padamu "kau ingin jadi apa nanti sebelum ajal menjemput?" kau hanya menjawab "aku ingin jadi pemimpin"
"Apa? Pemimpin?" kagetku
"Iya, tapi sayang… semua itu tak kan kesampaian untukku"
"Memangnya kenapa?" tanya aku lagi
"Karena aku tak sempurna. Aku tak punya mata untuk melihat dan tak punya harta kekayaan sebagai modal utuk menjadi pemimpin"
"Aku rasa, semua itu bukanlah modal utama untuk manjadi seorang pemimpin. Karena modal utama untuk menjadi pemimpin yang baik adalah hati yang bersih" tegasku.
Saat itu pula semangat sahabatku untuk menjadi seorang pemimpin membara. Tiada hari yang terlewatkan baginya selain upaya untuk memperlihatkan hatinya yang bersih dengan cara mencari orang-orang yang membutuhkan bantuannya, meski terkadang dia juga butuh bantuan yang lain—hanya sekedar menyebrang di jalan raya. Maklumlah! Dia seorang tuna netra. Walau dia sadar akan kekurangan itu, namun semangatnya tetap kokoh, bagaikan batu karang menantang gelombang lautan. Dia keritik dewan yang selalu berbuat sewenang-wenang kepada rakyat. Dia gugah hati nurani rakyat untuk merampas kemali hak-hak mereka yang sudah lama dirampas oleh pemimpin-pemimpin biadab itu. Sejak saat itu namanya menjadi bahan bicaraan orang-orang hampir di seluruh pelosok negeri. Koran setiap hari selalu memampangkan gambarnya yang selalu berpakaian khas pejuang kemerdekaan dengan ikat kepala bewarna bendera kebangsaan dan jari telunjuk yang diacung ke atas, beserta sorot mata yang seakan-akan berkobar walaupun dia seorang tuna netra.
"Sungguh hebat kau sahabatku!" seruku setiap kali melihat gambarnya di koran-koran.
Waktu pun terus surut, namun semangat sahabatku malah semakin membara dan semakin banyak pula orang-orang yang menjadi temannya dalam membebaskan hak-hak rakyat. Namanya semakin melambung diantara desau angin yang bertiup sepoi-sepoi, membuat ngeri para pejabat, wakil rakyat beserta antek-anteknya yang bobrok, bila berhadapan dengan sahabatk, meskipun dia seorang tuna netra.
***
Hari-hari, bulan dan tahun telah lewat. Akhirnya pemilihan bupati di daerah Bojong Kebol telah sampai. Gambar dan poster telah terpampang di sepanjang jalan, beserta janji-janji mereka masing-masing. Dan pada kesempatan kali ini, sahabatku mencalonkan diri sebagai bupati atas dukungan rakyat.
Akan tetapi, walaupun dia sudah mendapatkan dukungan rakyat, masih banyak pula golongan orang tinggi yang tidak setuju kalau sahabatku dicalonkan menjadi bupati, dengan alasan yang bermacam-macam, agar dia tidak diterima. Namun kekuatan mereka tidak ada artinya jika dibandingkan dengan rakyat yang sudah mendapatkan sedikit kebebasan hak-hak mereka.
Bumi Bojong Kebol kini sedang memanas, seriing semakin dekatnya pemilihan bupati, sering terjadi tauran antara warga desa dan para tim sukses yang memaksakan diri untuk sekedar mempromosikan calon yang mereka usung. Ketenangan yang dulu bersemai setiap pagi, kini sudah pupus ditelan waktu. Semua ini akan terus terjadi sampai pemilihan bupati selesai atau tidak, aku belum tahu.
Waktu yang ditungg-tunggu dengan hati panas telah tiba. Puluhan warga berbondong-bondong menyesaki tempat pencoblosan, sambil memegang selembar kertas hak pilih mereka masing-masing. Namun tak semudah yang diperkirakan panitia, tentang kelancaran proses pencoblosan. Semua warga harus berdesakan di tengah lapangan yang panas. Karena pagi ini sangat cerah, matahari tampak sebesar kepala. Dan, sesingkat mata berkejap, Awan hitam tiba-tiba berkeliaran di langit lepas, membuat suasana semakin menggebu-gebu.
Siang pun berlalu, berganti malam, warga tiap kecamatan telah pulang ke rumah masing-masing, setelah memilih calon pilihan mereka masing-masing sebagai pemimpin di Bojong Kebol ini. Malam ini adalah malam penghitungan suara sekaligus penjumlahan dan pengumuman pemenangnya. Sahabatku duduk di atas alun-alun kabupaten
"kau sangat bahagia sekaligus deg-degan malam ini sahabatku" bisikku dalam hati. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Pada saat inilah puncak ketegangan meloncat-loncat di setiap hati manusia yang bernafas. Karena pengumuman pemenang pemilihan bupati akan disampaikan setelah mengumpulkan semua perolehan suara dari setiap kecamatan. Hasil perolehan suara pun sudah di umumkan. Angin yang berhembus tiba-tiba berhenti. Kehidupan seakan tak bergerak. Ketegangan merayapi bumi.
"Pemenag pemilihan bupati tahun ini adalah, Sabar"
"Ya, benar! Itu nama sahabatku" seruku dalam hati. Dia sudah menggapai cita-cita yang selama ini diimpikannya—menjadi seorang pemimpin yang adil.
Tiba-tiba.
"Dorrr!" aku terperanjat dari lamunanku, mendengar suara letusan pistol tepat di atas alun-alun yang ditempati sahabatku dan calon-calon yang lain. Aku berlari menuju suara itu berasal. Tampak kulihat keributan antara warga dengan aparat keamaan, di sana. Namun aku tidak memerdulikan semua itu, aku masuk ke dalam celah-celah orang yang sedang ribut dengan para panitia dan aparat keamanan menuju tempat sahabatku. Sampai disana, aku melihat sahabatku dikerumuni orang, dengan lubang menganga di kepalanya. Aku berteriak sekuat tenaga, meluapkan semua kekesalan, kesedihan dan kebencian terhadap sang pelaku. Hening. ***


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 01.35 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: