Dzikir Hujan

Dzikir Hujan

MATAHARI mulai terbenam. Aku masih berjalan menelusuri tepian jalan dengan adikku, Zainab. Hari-hari aku lalui dengan penuh derita dan tangisan. Di antara rerumputan yang mulai tertidur berselimut embun, disinilah kisah ini di mulai. Gemuruh petir seakan membelah keheningan sore hari, tetes demi tetes gemercik air hujan berjatuhan di atas tanah yang masih basah oleh embun sore. Aku melangkah gontai dengan memegang tangan adikku menuju sebuah gubuk reyot di pinggir jalan. Disana aku melepas lelah.
Derita dan tangis ini menjadi temanku sejah Tuhan menjemput kedua orang tuaku dalam tragedi banjir bandang di kampungku. Penderitaan ini terus bertubi-tubi. Sejak kepergian mereka, kisah pedih terus melekat dalam garis perjalanan hidupku. Hari-hariku selalu menderita, tak ada secuil pun kebahagiaan yang aku dapat sejak ketiadaan kedua orang tuaku. Penderitaan terus menggerogoti seluruh pembuluh darah. Denyut nadi seakan menjadi sarang. Detak jantung seakan menjadi pusat. Sebutir nasi dulu seakan tak ada artinya. Namun sekarang, sebutir nasi itu bagaikan mutiara yang sangat berharga. Ingin rasanya aku berontak pada keadilan Tuhan yang telah menggariskan nasib hidupku sedemikian rupa. Kini aku tak punya apapun kecuali adikku yang menjadi teman sependeritaanku.
Sungguh aku tak tega membiarkan adikku terus-terusan seperti ini, tapi apa boleh buat, aku tak berdaya, yang aku bisa hanyalah mengeluh, tak dapat berbuat sesuatu kecuali hanya menangis dan berucap kata agar dia bersabar. Hanya itu dan hanya itu. Sungguh terlalu na’if nasib adikku, punya kakak seperti diriku ini. Sepantasnya dia tak punya kakak seperti diriku. Dia terlalu sabar dan polos untuk menjadi adik dari seorang kakak yang sangat tidak bisa membahagiakan dirinya.
Hujan terus turun, gerimis-gerimis membasahi bulu-bulu burung yang hinggap di pepohonan lebat oleh dedaunan. Katak-katak yang tadinya tertidur lelap kini telah bangun, sembari bernyanyi-nyanyi dalam dinginnya air hujan yang turun di sore hari menyambut datangnya malam sunyi berselimut awan kelabu. Bagaikan kubangan lumpur di tengah pesawahan yang di tumbuhi padi-padi menguning. Dinginnya sore ini seakan menusuk kulitku yang kurus kerontang karena sudah sebulan aku tidak makan, membuat tak tahan baju kumal ini menahan dinginnya udara malam. Gigi bergemeretak dan tubuh bergetar. Sementara adikku sangat lelap tertidur dalam pangkuanku. Mungkin dia kelelahan karena seharian berjalan terus menyusuri tepian jalan tanpa arah dan tujuan.
Hujan terus turun tanpa lelah, di tambah dengan tiupan angin, semakin menambah dingin malam ini. Seruh dingin terus bermunculan dari dalam mulut ini, seiring dengan bertambah larutnya malam di bawah gemericik air hujan. Suara deruh tanya, kesah dan keluh tak lagi terdengar sunyi senyap menyelubungi seluruh bagian bumi. Seakan tak ada lagi kehidupan yang merayap diantara celah-celah bumi merenggang, yang ada hanyalah kecipluk suara air hujan dari atas jeramih atap gubuk. juga suara kekehan katak-katak dalam semak-semak rerumputan yang menggigil kedinginan. Mata sudah tak kuat lagi untuk menerawang diantara kegelapan air hujan, namun hujan tak kunjung reda. Sayap-sayap malam berkelebatan menabur benih-benih baru sebagai penghias masa depan untuk anak cucu Adam. Semakin malam semakin tak tahan mata ini untuk menerawang, membuat aku pun tertidur dalam dingin malam ini. Walaupun tulang-tulang rusukku seakan membeku, dzikir malam seakan tak pernah surut meski dalam mimpi-mimpi gelap.
Waktu terasa berjalan. Pagi pun datang menyisipkan cahaya kekuning-kuningan dari ufuf timur, sembari menabur butir-butir mutiara yang mempesona dipandang mata telanjang: baru bangun dari tidur lelap. Ingin rasanya aku menguntai butir-butir mutiara itu, untuk aku persembahkan pada Zainab. Namun sayang, itu hanya fatamorgana dari embun pagi yang di terpa sinar matahari dari ufuk timur yang berkilauan, menipu mata-mata yang memandang. “Sungguh agung ciptaanmu, Tuhan”.
Matahari sudah sempurna menamPakkan rupanya, namun adikku belum juga bangun dari tidurnya. Ingin rasanya aku membangunkannya, namun aku tak tega. Aku hanya diam membisu bagaikan patung yang sedang memikirkan nasibnya pagi ini. APakah aku bisa hidup untuk besok, atau tidak? Inikah nasib anak yang terbuang dijalanan? SerIButanya menjadi temanku pagi ini. Kain kumal yang membalut tubuh ini seakan menebar bau yang agak menyengat hidung. Namun apa boleh buat, hanya kain kumal ini yang menjadi teman tidurku dalam dinginnya malam.
Detik demi detikpun berlalu. Akhirnya Zainab bangun juga dari tidur lelapnya semalaman. Tanpa pikir panjang, langsung kuajak Zainab untuk mencari sesuap nasi di pinggiran jalan raya, karena disalah lahan kami mencari makan. Ya, tentunya dengan mengamen. Memang, tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah, tapi apa boleh buat, Cuma ini yang dapat membuat kami hidup. Jadi tak ada salahnya kami ngamen. 
Di jalan raya sudah penuh dengan mobil berlalu lalang, langsung kami angkat kaleng minuman sebagai wadah uang yang akan orang berikan pada kami, sebagai bentuk perhatian pada kami. Namun nasib berkata lain, tak ada satu keping pun uang recehan yang kami dapat. Hanya lelah yang menggerogoti seluruh badan.
Satu jam bergulir begitu saja, rasa lelah semakin tak tertahankan. Namun tidak dengan semangat juangku untuk hidup, untuk terus berkarya dengan hidup. Meski “lelah” adalah satu-satunya kata yang kami miliki, tapi tidak dengan semangat pantang menyerah, semua itu malah menjadi energi maha dahsyat dalam diri. Bukankah dengan semakin sulitnya perjuangan itu juga akan semakin berlimpah hasil yang akan di dapat?
Tiba-tiba, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dengan menjatuhan sekeping uang ratusan ke tengah-tengah jalan raya. Secepat itu pula, tanpa sepengetahuanku Zainab telah berada di tengah jalan raya itu untuk mengambilnya. Namun tragis, saat Zainab hendah mengambilnya, tiba-tiba secepat kilat sebuah mobil menghantam tubuh mungil itu. Sementara aku hanya bisa berteriak histeris menyesali.
“Aku lalai menjagamu, aku gagal menjagamu, adikku. Jasadmu yang membujur kaku ini, akan menjadi prasasti kegagalanku menjadi seorang kakak. Adikku, maafkan aku. Aku berjanji, tak akan pernah putus do’aku untukmu, aku berjanji. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih layak di sana. Tuhan, aku titipkan dia padamu. Mungkin inilah jalan yang terbaik”.

Guluk-Guluk, 04 Januari 2008 


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 01.41 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: