Cerpen:
M.Riski
Beginilah cara kita berpisah kekasih.
Mugkin kelak aku akan mengingatmu sebagai hujan, perpisahan kita adalah juga
pertemuan tanpa nama. Entah mengapa kita harus membuat janji menziarahi pantai
dan laut itu?
Hujan masih saja sama, sama seperti
saat kita pertama bertemu, sama seperti saat kita berpisah. Kau wanita tampa
nama. Sudah terlulu sering kita lukis hujan di setiap jengkal pertemuan kita
yang serba singka itu. Tak ada yang berarti bagiku, sepertinya bagimu juga begitu.
Sebelum kita bertemu dalam ziarah pantai dan laut itu, mungkin kita terlalu
asik dengan kesendiri kita. tak aku salahkan semua itu, karena semua orang
memiliki caranya masing-masing untuk menikmati hidup yang singkat ini. Tapi
kenapa setelah perjumpaan itu kau terkesan memaksaku, untuk berenang bersamamu,
dalam air yang keruh ini. Mengajakku berbicara dengan mulut tertutup rapat,
bagai mana aku memahami semuanya, jika sepi yang hanya kau hadirkan dalam
setiap perjumpaan kita yang singkat, Masih terlalu sepi jika mau dibilang
lautan. Karena di laut selalu ada debur ombak, selalu ada pantai, dan selalu
ada camar yang berteriak-teriak parau, meski ada juga karang dan pasir basah
yang membisu. Tapi apakah cinta harus seperti pasir dan karang. Yang selalu mengungkapkan
perasaannya lewat kebekuan.
Hujan di kotamu dan hujan di kotaku,
mungkin terlihat sama, namun mereka berbeda, mereka bersumber dari uapan air
laut yang berberda dengan pantai yang berbeda-beda pula. Pastinya kau sudah
memahami itu sebelumnya. Mungkin kau takkan bisa bayangkan bagaimana
menempatkanku dalam kenangan nanti, saat aku memilih kehidupan lain dengan
orang lain, dan setidaknya itu sudah aku lakukan sekarang. Orang yang lebih
mencintaiku dari pada kau, mugkin saja kau juga begitu. Dan aku kira kau benar.
Kita harus menjaga diri dari rasa saling membenci, setidaknya kita pernah
saling mencintai (itupun kalau kau tidak bohong. Aduh, aku tidak bisa bayangkan
cintamu sebuah kebohongan. Tidak mungkin. kau mencintaiku, kedalaman matamu
sering bicara begitu padaku. Mata yang aku kira sesuatu yang paling jujur dalam
dirimu)
Dalam ziarah pantai dan lautan
terakhir kita itu. Ada sekelompok tangis, ada cerita canda dan getir tawa, kita
seperti menghibur diri dalam kehawatiran masing-masing. Kita mencoba membuat
suasana sehangat mungkin. Dan dengan manja kau membujukku untuk mengatakan apakah aku benar-benar akan meninggalkanmu,.
Aku katakan, benar aku akan pergi, mungkin kesuatu neggri yang takkan aku temui
lagi laut,pantai dan huja yang sama seperti di neggri ini. Aku ingin mencari
sesuatu yang berbeda dari sebelum-sebulunya saat bersamamu. Mungkin sebuah
senja tanpa pantai atau langit mendung tampa hujan. Pada saat itu kau
menatapku, matamu mengiris mataku, aku biarkan saja. Aku ingin teriris, mataku
terbelah dan sakit. Aku ingin benar-benar terluka sama seperti luka yang kau
rasakan saat itu. Sehingga kita bisa membiarkan luka ini mengalir indah.
Menjadi rindu dan rasa cinta yang kita simpan diam-diam. Cobalah kau buka
kembali ruang masa lalu kita, pernah kau dekap aku dalam dekapanmu yang hangat,
dan aku menyerahkan sebilah belati sembil berkata gemetar; jika kau ingin
membunuhku, bunuhlah aku dengan cara yang indah, mati sempurna sebagai pemuja
cinta.
Kau hanya tertawa ketika itu, kau
kira aku main sandiwara, atau gombal. Atau kau memang memilih menikmati
kematianku dalam sekarat yang panjang ini. Bahagiakah kau mendengar cerita ini.
Aku tampak tolol bukan. Cinta, ah, cinta. Sudahlah jangan kau meminta aku untuk
bercerita lagi, aku tak ingin sampai pada ingatan-ingatan yang membuatku
menangis lagi. Lagian aku tidak percaya kau benar-banar mendengar ceritaku.
Aku panggil saja kau wanita hujan,
karena sekarang bagiku dirimu sudah tak mempunyai nama hanya sekedar hujan yang
datang dan pergi dalam ingatanku. Dirimu hanyalah rindu yang diam-diam aku
simpan itu. Maka tak penting aku sebut namamu, di neggri ini. Neggri yang dulu
pernah aku bilang padamu pada ziarah laut dan pantai terahir kita. Adakah
laki-laki yang dapat mencintaimu dengan lebih sabar?. Ia bukan lagi aku. Untuk
itu hujan kekasihku. Aku memilih, mimang bukan kau…
***
“Entah
surat siapa ini, tergelatak di pantai seindah ini, sementara surat ini penuh
luka dan air mata. tapi sayang aku tidak bisa meneruskan membaca surat ini di
sini, aku harus pulang sebelum istriku mencariku…
Lengkong 09 Januari 2014
Posted by , Published at 23.48 and have
0
komentar




