cerpern: M.Riski
Hujan yang turun kemaren merupakan
hujan terakhir yang aku saksikan bersamamu. Dan merupakan hujan paling indah
yang pernah aku saksikan selama ini. Entah mengapa aku berkesimpulan bahwa itu
hujan yang paling indah dari pada hujan-hujan sebelunya, padahal hujan yang
kemaren itu adalah hujan yang sama saja dengan hujan pada biasanya, dia turun
pada musim-musim hujan yang biasa. Namun entah mengapa aku merasa itu adalah
hujan yang begitu indah aku rasakan, apa mungkin di hujan yang kemaren itu karena aku di temani oleh mu, tapi bukankah selama
ini aku sering melihat hujan dengan di temani olehmu. Entahlah, namun yang
pasti satu minggu belakangan ini aku merasa semua yang aku saksikan dan aku
lihat begitu berbeda dan begitu indah, padahal selama ini aku sering kali
saksikan itu semua.
Dan entah mengapa pada siang ini
pula, aku ingin sekali mengajak mu berbicara banyak hal bersamaku, makanya aku
menyuruh mu datang kerumah untuk menemaniku ngobrol, meski sebenarnya aku tak
tahu apa saja yang ingin aku bicarakan dengan mu. Aku merasakan semua ini
begitu berbeda dari waktu-waktu sebulumnya, sebelum aku sakit.
Mungkin kau juga merasakan aku
berbeda dari biasa-biasanya belakangan ini. Aku tahu itu karena Kau sering menanyakan
keadaanku apakah aku sedang baik-baik saja, tidak sakit lagi atau ada masalah.
Namun aku tidak sakit lagi dan tidak ada
masalah. aku juga tidak mengerti. Namun aku ingin selalu dekat dengan semua hal
yang selama ini ada dan selalu dekat denganku, mulai dari hal yang paling
sepele sekalipun.
Dan ada suatu hal yang tak sempat
aku ceritakan pada mu pada setiap kebersamaan kita, dan itu benar-benar takkan
sempat aku ceritakan padamu. bahwa Pernah suatu ketika di pagi yang berkabut
dalam sebuah gerimis, datang seorang kakek tua dengan penampilan kumal layaknya
seorang pengemis kerumahku. Waktu itu aku sedang duduk sendiri di teras rumah
sembari menyaksikan gerimis yang tenang. Melihat orang tua kumal tadi datang
menghampiriku, aku lekas menghampirinya, mungkin ada yang bisa aku bantu,
mungkin dia butuh bantuanku.
“aku butuh tempat berteduh!”
Jawabnya setalah aku tanyakan apa
yang bisa aku bantu. Mendengar dia butuh tepat berteduh aku mempersilahkannya
masuk dan duduk. Aku tawarkan dia minum dan makan mungkin dia haus atau lapar,
namun dia menolaknya, sekali lagi dia Cuma bilang bahwa dia butuh tempat
berteduh saja.
Tanpa rasa curiga sedikitpun aku
duduk kembali, menemaninya sembari memandangi gerimis seperti semula. Dia Cuma
diam saja tanpa sedikitpun bicara padaku, walau coba aku pancing pada sebuah
percakapan agar keberadaannya tak merasa di acuhkan. tapi dari setiap
pertanyaan yang aku lontarkan Cuma dia jawab dengan singkat. Seakan ogah-ogahan
dia menjawab semua petanyaan ku.
Mungkin saja dia tak mau di ganggu,
dia butuh tenang dan istirahan sejenak. Mungkin saja dia sudah-berjalan
berhari-hari tampa tujuan dan pagi ini lewat di denpan rumahku. Akhirnya
suasana seperti kembali senyi dan tenang hanya desah nafas kami berdua yang
terdenganr serta riak gerimis yang bergulir jatuh di atas atap teras rumah.
Sesekali aku pandangi raut wajah orang ini. Rona ketuaan
yang tampak dari kerut kulit di wajahnya terlihat jelas, namun dari cahaya
matanya yang terang terpantul bahwa dia adalah orang yang kuat. Mungkin dulu
ketika muda dia adalah tipikal orang yang pekerja keras, itu terliaht dari
otot-otot di tangan kekarnya masih sangat Nampak meski di usianya yang sudah
keberapa ini. Namun kenapa hidupnya seperti ini, menjadi orang yang seakan
kekurangan. Apakah dia tak mempunyai keluarga, anak atau apalah? Atau mungkin
saja dia punya anak namun anaknya tidak mau mengakui bahwa dia bapaknya lataran
anaknya jadi orang sukses. Bukannya banyak hal yang seperti itu terjadi
belakangan ini di berita berita di tv, kisah anak yang tak mau mengakui orang
tuanya lantaran orang tuanya udah tua jompo dan malu ketikan sang anak
kedatanga tamu-tamu binisnya. Mungkin saja itu. Atau mungkin saja malaikat.?
Karena menurit guru agama ku dulu
ketika aku masih SD, bahwa malaikata biasanya datang untuk menguji manusia
dalam wujud pengemis, orang miskin dan yang lain-lain. Apaka orang tersebut
benar-benar beriman dan patuh pada agama. Entahlah aku tak tahu juga, namun
bagiku itu hanya sebuah dongeng, agar anak-anak terangsang untuk santun pada
para pengemis dan saling tolong menolong, ya semacam pendidikan moral yang coba
di tanamkan oleh guru agamaku dulu secara halus melalui dongong-dongeng seperti
itu.
Kenapa fikiranku tentang orang tua
ini kemana-mana seperti gini, Sudahlah aku tak mau ambil pusing lagi tetang
tamuku ini. Anggap saja orang tua ini normal dan biasa-biasa saja seprti orang
tua pada biasanya, mungkin hanya nasib yang membuatnya harus seperti ini, dan
tak seharusnya aku menerkan-nerkan siapa orang tua ini, tanpa aku benar-benar
tahu kejelasan siapa sebenarnya dia dan dari mana asalnya.
Gerimis masih saja turun dengan sedunya,
dan aku bersama orang tua ini masih dalam kebekuan tanpa bicara. Aku kirim sms
padamu, namun kau tak kunjung membalasnya. Aku minta kau segera detang
menemaniku, aku jenuh dengan kebekuan gerimis ini, aku ingin kau menemaniku
berbicara banyak hal di sini, sambil menunggu gerimis reda dan kau dapat pergi
lagi jika kau ingin.
Dan tiba-tiba orang tau ini berdiri
dan bernjak pergi padahal gerimis masih saja turun. Namun sebelum dia pegi, dia
seperti mengucapkan sesuatu kata padaku yang samar-samar aku dengar karena
terhalang dengan suara gerimis yang tiba-tiaba berisik.
“aku menunggumu!”
Ya, Cuma itu kata yang terdengan
dengan jelas olehku, kemudia dia pergi begitu saja. Dan tak beberapa lama kemu
dia kau datang dengan rambut tergerai turun dari taksi kuning di depan rumah,
aku begitu hafal setiap kali kau datang dan masuk kedalam pagar rumahku, kau
akan tersenyum begitu manis padaku ketika aku menyambutmu di depan teras rumah.
Aku ambilkan kau handuk kering untuk mengeringkan rambumu yang berembun oleh
gerimis, saat itu juga kita akan begitu akrab dengan berbagai obrolan yang
entah kemana arahnya.
Setelah setengah bulan yang lalu aku
baru keluar dari rumah sakit gara-gara jantungku yang tak normal, kau selalu
datang dan menemaniku tanpa leleh, padahal hati kecilku sudah tak mau
merepotkanmu karena penyakitku yang tak kunjung sembuh ini. Aku tak mau hidupku
yang penyakitan ini menjadi penghalang kebahagian mu untuk melakukan apapun.
Namun entah menggapa kau masih di sini dan jadi teman paling setia menemaniku
tiap gerimis datang.
Gerimis telah reda, dan siang mulai
pudar oleh pekat malam yang datang merayap di atap langit. Aku antarkan kau
pulang di depan rumah sambil menunggu taksi kuning yang biasa kau tumpangi.
Malampun utuh, gelap mentupi setiap sudut, yang terlihat hanyalah tamaran
lampu-lampu yang terhalang kabut. Aku benci malam, karena malam selalu mebawa
kegelapan dan kesunyian, aku menghirup aroma kematian setiap malam datang, aku benci malam.
Dalam tidur, aku lihat cahaya-cahaya
terang bertebangan di langit. Aku bahagia karena malam tak tampak yang ada
hanyalah terang dengan cahaya yang berpendar ke segala penjuru. Dari sekian
banyak cahaya cahanya yang berterbangan dan tak jelas itu apa aku lihat salah
satu cahaya itu menghapiriku, dan dari sepektrum cahaya itu Nampak wajah
laki-laki yang sepertinya aku kenal atau pernah aku lihat, ada kedamayan ketikan melihatnya. Ya,,benar dia
laki-laki tua yang tadi siang datang kerumahku ketika gerimis. Dia bersayap
cahaya, dia seperti malaikat latas dia mengajakku entah kemana. Aku ikut…
Surabaya 17 June 2013
Posted by , Published at 01.25 and have
0
komentar




