Hidup di desa merupakan suatu keindahan tersendiri bagiku, di balik keterbelakangannya dari dunia luar, numun itulah keuntungannya hidup di suatu pedesaan yang masih asri, tak terjamaah oleh berbagai hal kehidupan yang jelimet seperti di kota-kota besar. Didesa kita masih bisa menikmati udara segar di setiap harinya, serta bau tanah yang masih Nampak wangi dan air yang mengalir jenih dari sugai-sugai kecil tak tercemar apapun. Di desa kehidupan masyarakatnya adem ayem, toto titi tentrem kerto raharjo.
Di setiap paginya akan kau temukan orang-orang pergi ke sawahnya masih-masing dengan canngkul menggantung di bahu, dan kendi air yang bergelantunagan di genggaman tangannya. Ada kedamayan tersendiri ketika aku lihat pemandangan itu di setiap paginya. Takkan kau dengarkan motor-motor dan mobil-mobil yang berebutan paling depan di tengah macet, serta sirene mobil-mobil polisi yang meraung-raung mengatur jalannya lalu lintas seperti di kota-kota di sana. Yang ada hanyalah denguh sapi-sapi menarik pendati serta tawa canda anak anak kecil yang mau berangkat sekolah.
Bagiku selaku orang yang pernah hidup di dua tempat yang berbeda antara perkotaan dan desaan, dapat dengan jelas, menilai keduanya di mana bagiku yang sangat indah dan sangat aku sukai sebagai tempat tinggal yang nyaman. Yah, walau terkadang ada orang-orang di desaku sering bertanya tentang kehiudpan di kota padaku, mereka adalah orang –orang yang selama ini dan mungkin seumir hidupnya bertahan dan tidak pernah kemana-mana selain kepasar desa.
Ketika aku ceritakan tentang semua apa yang ada dalam kota dengan jujur tampa aku tambah-tambah, sering mereka dengan wajah penuh harap bisa untuk pergi ke kota-kota besar itu, sepertinya bagi mereka, semua apa yang aku ceritakan merupakan hal yang amat menyenangkan, yang tak penah mereka temukan selama ini. Ya, untuk semua hal itu dapat aku pahami. Bagi mereka hal seperti itu sangatlah asing di telinga, dan yang ada dalam fikiran mereka semua itu sangatlah menyenangkan. Dengan gemerlapnya lampu-lampu di tepian jalan, dan mobil-mobil dengan beragam betuk dan merek berjalan seliweran. Karena jika kau kedesan takkan kau temukan semua itu.
Meski sekarang keadaan di desaku tak sama persip seperti waktu umurku sepuluh tahun yang dulu, alat komunikasi serba canggih sudah masuk di disaku, seperti internet, dan hp. Dan aku lihat semua itu jadi kebutuhan pokok yang harus di penuhi, sehingga tak ayal, anak-anak berusia tujuh tahun sudah merengek-rengek minta di belikan hp kepada orang tuanya. Apalagi warung-warung yang dulu jadi temapat jualan gorengan dan kopi, kini seperti berubah fungsi tak hanya jadi tempat jualan kopi dan gorengan tapi tempat jualan pulsa.
Dulunya alat mkomunikasi yang paling di gunakan oleh masyarakat adalah sepiker di surau-surau di desa, setiap ada kebutuhan yang mendesak untuk memanggil seseorang yang sangat mendadak. maka lospeker itu akan berteriak teriak, namun sekarang sepiker itu hanya di gunakan baut mengumumkan berita duka apa bila ada oarng yang menuggal dunia saja.
Semakin cepatnya media komunikasi yang serba kilat itu menyebar di kalangat orang-orang di desaku, bukan menimbulkan kebaikan yang aku lihat, namun sebuah peluang kebebasan untuk melakukan keisengan-keisengan yang tak patut. Itu terbukti semakin maraknya perselingkuhan di desaku, dan itu tak pandang usia. Dan tak pandang ada ikatan kekeluragaan atau tidak.
Sehinggga kini, di tiap sudut-sudut desa yang biasnya tempat ibu-ibu ngompul di tiap sorenya, menjadi tempat diskusi hangat ngomungin ini dan si itu berselingkuh dan itu di temukan oleh orang di tangah sawah. Ada-ada saja sekarang di desaku.
Dulu orang pergi ke surau membawa al-Quran dan tabih, kini yang mereka bawa hp, dan ketika aku Tanya kepada salah seorang dari mereka kenapa gak bawa al-quran, mimangnya gak mau ngaji.
Apa jawabannya?
“di hp ku kan sudah ada al-Qurannya, buat apa membawa al-quran lagi”
“astaufirallah”
Aku hanya bisa mengusap dada mendengan jawaban itu, aku bukan sok alim dan sok suci untuk semua ini, dan aku tak ingin menghukumi pantas atau tidaknya semua itu atau bahkan haram atau tidaknya. Tapi aku Cuma hawatir al-quran yang berbetuk kita dalam tulisan di atas kerta, yang dulu pernah dan bahkan selalu setia menemani kita untuk belajar membacanya, di lupakan begitu saja dan di makan rayap.
Ada beberapa hal lagi yang pernah aku lihat, ketika hari raya Idhul Fitrih, yaitu tepatnya di pagi hari, saat embun masih membasihi rumput, seperti kebiasaan di desaku atau bahkan kebiasaan orang-orang yang merayakan hari raya idhul fitri di seluruh dunia, pergi ziyarah kubur, ke kuburan orang tua kita masing-masing. Aku lihat ada orang yang begitu husuknya pencet-pencet tobol hpnya, aku kira dia lagi balas sms, namun ternyata dia lagi mengaji dengan alat itu.
Tembul keisengan dalam benakku, dalam hati aku bilang.
“muangkin orang ini lagi pamer hpnya pada orang yang ada dalam kubur. Siapa tahu orang yang udah meninggal itu mitak no hpnya, jadi bis
a telfon-telfonan tiap saat”Ada-ada saja.***
Surabaya 09 Mei 2013
Posted by , Published at 00.31 and have
1 komentar




