HUJAN KEKASIHKU 2

HUJAN KEKASIHKU 2

Cerpen M.Riski
 Aku tidak tahu harus bilang apa, setelah 16 tahun akhirnya aku bisa menginjakka kakiku lagi di kota ini, kota yang dulu pernah memberikan arti tersendiri meski sekarangpun tetap begitu. Tak ada yang berubah di sini, setasiun kereta api yang merupakan puncak dan akhir dari semua cerita ini bermula masih saja sama seperti dulu. Meski sudah ada yang bertambah disini. Ya pot-pot bunga yang berjejer di setiap sisi jalan menuju loket pembelian tiket. Serta kios-kios yang tertata lebih rapi dari pada dulu. Dan tak ada lagi pendagang kakilima yang menjajakan dagangannya, mungkin sudah banyak peraturan dan pendisiplinan di kota ini sekerang.
16 tahun bukan waktu yang singkat untuk sekedar mengingat suatu yang sepele dalam kurun waktu itu. banyak sudah yang hilang dalam memory otakku, tetang gambaran utuh kota ini, 16 tahun yang lalu. Namun tidak dengan beberapa tempat yang bagiku, merupakan tempat-tempat terindah sekaligus paling membuatku teriris jika menggingatnya lagi, dan salah satunya adalah stasiun kereta ini.
Di sore yang sesendu ini, mengiringi kedatanganku kekota yang sama setelah 16 tahun aku tinggalkan, kembali aku saksikan pantai yang sama dengan pantai yang dulu pernah memberiku arti yang lebih, dalam memaknai keberadaan ku di kota ini. Bau pasir basah, suara parau camar-camar mengintipi ikan-ikan kecil dalam air laut, dan sapuan omak yang menerpa kakiku, terasa sejuk. Serta, ya,,, senja itu, seja yang bertengger di ufuk barat, memberi semburat warna keemasan pada setiap apa yang aku pandang di pantai ini.
Ada kerinduan, setiap kali aku bayangkan semua ini, dan hari ini  bukan hanya sebuah bayangan saja, pantai ini benar-benar nyata, dan aku benar-benar kembali kekota yang dulu pernah aku singgahi 16 tahun yang lalu. Entah mengapa aku teringat dengan sebuah pertemuan, pada seseorang di pantai ini. Pertemuan yang aku sebut itu sebagai ziarah pantai dan lautan. Entah mengapa aku merindukannya, merindukan saat dia merebahkan tubuhnya dalam pulukanku, sembari mebenamkan kedua kaki kita dalam pasir yang hangat, dan bercerita banyakhal. aku rindu dua bola matanya yang begitu indah terasa. Meski juga begitu menyakitkan setelah kepergianku dari kota ini, seperti sembilu yang mengiris dan sampai saat ini irisan mata sendunya itu masih aku rasakan. Ternyata benar luka ini telah menjadi rindu yang diam-diam aku simpan dalam waktu yang begitu panjang.
Di pantai yang sama ini, aku mimang merindukannya. Tapi aku tidak ingin pertemuan itu terulang kembali, karena aku tahu. Penulis kisah hidup ini telah mimilihkan jalan yang berbeda. Jadi tak ada hakku sebagai tokoh ciptaannya memaksakan diri untuk bisa menulis semuanya seperti 16 tahun yang lalu. Mungkin saja dia sudah hidup bahagia dengan orang yang dia pilih, serta sudah memiliki anak yang lucu-lucu. Tapi aku berharap dia juga akan menyimpan rindu yang sama sejak ziarah laut dan pantai terakhir itu. pernah aku coba menulis surat dalam botol, yang aku larungkan ke laut, dari kotaku yang sekarang. Kota dengan mendung tanpa hujan, serta camar tampa lautan, meski ada juga senja, keleppak angin dengan aroma pantai yang sama dengan angin di pantai kota ini. Hanya untuk mengrim rinduku yang entah di pantai mana di berlabuh.
Mungkin saja surat itu sudah tergelam, terhempas badai, atau tersesat kedalam hutan rimba dengan dinosaurus di dalamnya. Meski aku tidak percaya sekarang masih ada dinosaurus yang hidup di dunia ini. Atau bisa saja di ambil putri duyung seperti kisah-kisah di neggri fantasy, sehingga duyung-duyung itu menangis lantaran surat itu penuh luka rindu yang menyayat, dan air laut  menjadi asin oleh air mata mereka. Ya,,meski aku sudah tahu air laut sudah asin sejak dulu, sebelum aku menyimpan rindu ini.
Masihkah dia sering mengunjungi pantai ini, di setiap sore seperti enam belas tahun yang lalu bersamaku. Mungkin tidak. Seaandainya dia masih sering mengunjungi pantai ini, pastinya sore ini aku melihatnya di sini, bukannya ini sore yang sama dengan sere 16 tahun yang lalu. atau dia sudah meninggalkan kota ini,, ah,,,tidak mungkin. Dulu dia pernah bilang padaku bahwa dia sangat mencintai kota ini, dengan pantai keemasannya. Jadi tak mungkin di pergi kekota lain. Tapi mungkin saja itu terjadi, setelah ziarah pantai dan lautan terakhir itu, bukankah aku dan dia sama-sama menyimpan luka, luka yang entah sudah menjadi apa baginya dalam waktu 16 tahun ini.
Bukankah wajar jika manusia ingin bahagia, dan dia ingin terlepas dari segala macam luka-masa lalunnya, dan aku tahun kota ini tak akan bisa menghapusnya, malah sebaliknya. Kota ini dengan pantainya akan menjadi melodrama yang berulang-ulang dia saksikan.
Ah, sudahlah. Kenapa aku seperti ingin sekali melihatnya, meskipun benar begitu. Tapi itu tak boleh terjadi, aku sudah memiliki wanita lain sekarang. Wanita yang mungkin sero ini di kotaku, sedang memandikan anak-anakku, atau sedang menyuapinya. Yang pastinya dia sedang menunggu kepulanganku dari kota ini. Aku fikir aku ini suami yang tak harusnya dia percaya, atau di contoh oleh semua orang yang tahu kisah ini. Hanya untuk wanita hujan dan melodrama masalaluku, aku membohongi istriku agar dia tidak ikut kekota ini, jadi aku bilang kepergianku kekota ini hanya untuk masalah kerja. Agar aku luluasa sendirian mencoba kembali kedalam suasana 16 tahun yang lalu. dan mencoba mengadu keberuntungan siapa tahu aku bisa bertemu dengan wanita masalaluku, yang aku sebut wanita hujan.



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 00.06 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: