
cerpen:M.RISKI
Landai kawanku, bukit lancaran yang kau kirimkan padaku sudah aku terima. Bukit lancaran yang kau tempel pada sudut kartu pos itu . Ya! Sebuah bukit yang penuh dengan burung-burung terbang, pohon mimba yang tumbuh subur serta senja yang mempesona saat sore tiba. Numun bukan hanya itu sajah di bukit lancaran, tapi sayang tak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. Saat aku terima bukit lancaran yang kau kirinkan mengingatkan aku saat dulu kita masih bersama. Kawanku landai, masih ingatkah kau setiap sore itu di bukit lancaran? Kita duduk di tengah gubuk tua yang bediri kokoh di atas bukit lancaran dengan angkuhnya. Entah siapa yang mendirikan gubuk itu aku juga tidak tahu. Landai, masihkah gubuk itu berdiri tegak disana, sembari memandangi santri-santri yang seliweran saat sore di bukit lancara dengan kegiatan masing-masing. Ada yang baca buku, duduk-duduk sembari berbincang-bincang dengan temannya dan ada pula hanya sekedar melamunkan kampung halaman karena tidak kerasan di pondok. Terlalu banyak rasa yang bercampur aduk di bukit lancaran saat sore tiba membuat aku tak bisa menulis semuanya disini.
Di atas bukit lancaran, di tengah gubuk tua itu dan disebuah sore. Landai, Kau adalah teman setiaku menunggu matahari terbenam di ufuk barat. Menanti seluit cahaya senja menerpa pohon-pohon mimba dan wajah kita. Menimbulkan bercak-bercak keemasan pada daunnya. Di saat itu kau selalu berucap; aku mencintai bukit lancaran seperti aku mencintai neng sofi. Ha,ha,ha. Saat itu aku akan tertawa dan tersenyum pada mu. Meski senyum dan tawaku itu terkadang kau memaknainya sabagai sebuah ejekan. Tapi tidak! Aku tak pernah mngejekmu, aku tersenyum dan tertawa saat itu pada mu karena aku kagum dan sekaligus bangga pada kebesaran niat mu bilang terang-terangan bahwa kau suka pada neng Sofi. Maklumlah kita dan neng sofi beda kasta, neng Sofi adalah putri seorang kiai besar pengasuh pondok pesantren dengan ribuan santrinya. Sementra kita landai hanyalah anak orang biasa yang hidup dengan berjuta mimpi dan harapan serta kita adalah termasuk santri di pesantrennya, jujur sajah kalau aku jadi kamu aku takkan berani bilang terang-terangan bahwa aku suka neng Sofi, namun kau beda. Landai kawanku, rindukah dan cinta kau pada ning sofi yang selalu menjadi teman dalam mimpi-mimpi mu?
Sepuluh tahun sudah engkau tidak bertemu dengan ning sofi, begitupun dengan ku. Sudah lama aku tak berjumpa dan bercanda dengan mu, rindu jugakah kau kepada ku?. Nampaknya kau masih betah di pesantren. Dan yang pasti kau sudah beda dari yang dulu. Mungkin jenggot dan kumismu sudah tumbuh lebat, atau mungkin sajah rambutmu sudah beruban. Kalau yang aku gambarkan tantangmu itu benar, sudah sepantasnya kau di panggil Pak Kiai. Jangan marah dulu landai aku hanya bergurau! Yang jelas kau disana sudah sudah jadi orang kepercayaan bapak kiai dan pastinya kau di panggil bapak ustad oleh santri-santri baru di sana. Semua sudah beda ya landai.
Mengingat kembali Ning Sofi landai, mengingatkan aku akan kebodohan mu dulu. Masihkah ingatkah engkau kejadian itu landai, kejadian yang hampir membuatmu hampir di usir dari pesantren: waktu itu entah hari apa dan pukul berapa aku sudah lupa. Saat kau kirim surat pada Ning Sofi untuk yang pertama dan yang terahir. Saat itu aku sudah punya firasat yang tidak nyaman, kalau kau sampai ketahuan mengirim surat pada Ning Sofi, apa lagi isinya surat cinta. Bisa mampus kau landai. Namun apa yang aku hawatirkan pun terjadi, walau kau tidak di tuduh mengirim surat pada ning sofi, tapi kau oleh keamanan pesantren di sangka berpacaran dengan dengan sumi salah satu pembantu santri abdi Pak Kiai. Sehingga kau di sidang semalaman di ruang keamanan. Keesokan harinya dengan wajah murung kau datang pada ku, dan memberi tahu ku bahwa kau di hukum menguras comberan dan membersihkan halaman pondok selama satu bulan. Kau mimang bodoh dan ceroboh landai, sampai kau di sangka pacaran dengan sumi. Untung kau tidak harus mendatangkan orang tuamu ke pengasuh, bisa-bisa kau di tunangkan dengan si sumi.
Lanadai kini semua sudah beda tak seperti dulu. kita tak bisa berbagi cirita di tengah malam sembari di temani secangkir kopi penunda kantuk di bawah sinar bulan redup. Namun kau jangan khawatir surat yang kau titipkan untuk Ning Sofi masih aku simpan denga baik. Tapi aku minta maaf padamu landai surat yang kau titipkan ini belum sampai juga pada Ning Sofi. Paris ini luas landai, sepuluh tahun aku mencari Ning Sofi untuk mu. Namun tak kunjung akun temukan di mana dia kuliah dan di daerah mana dia tinggal atau mungkin dia sudah pindah kuliah ke negara lain. Entah! Tapi jangan khawatir aku tetap akan berusaha untuk mencarinya. Sabar sajahlah atau kau cari yang lain.
Kawanku landai sebenarnya aku tak ingin membahas tentang Ning Sofi. Melainkan aku rindu pada bukit lancaran kita. Masihkah seperti dulu? Dengan sejuta keanggunan. Tahukah kau landai di paris banyak sekali tempat yang sangat mempesona mulai dari menara evel dan yang lainnya. Dan mungkin kau sudah tahu kalau di sini iklimnya berbeda dari indonesia. Aku yakin kau tak pernah merasakan dinginnya mandi salju. Ranya sangat dingin namun di balik dengin itu ada kelembutan saat di raba dengan tangan talanjang. Namun semua itu tak sama seperti dengan bukit lancaran landai, di tambah lagi dengan suasana pesantren yang selalu ramai dengan santri-santri yang aktif dengan kegiatan masing-masing. Aku rindu bukit lancaran dan rindu kau landai, serta pondok tempat kita belajar tentang hakekat kehidupan ini. Dan aku rindu pada indonesia, neggeri gemah ripah loh jinawi. Tempat kita lahir dan besar.
Landai kawanku . mengingat bukit lancaran di pucuk kartu pos yang kau kirimkan seperti aku melihat mu kembali dengan gaya has mu: kopyah putih yang tak pernah lepas dari kepalamu, sampai menimbulkan garis melingkar di dahi mu, Di padu dengan baju kemija lengan panjang. Semua terasa datar-datar sajah dan sederhana kalau di lihat. Di tambah sarung kotak-kotak warna coklat. Gaya itu yang membuatku sangat sulit melupakanmu.ha, ha,ha. Jangan besar kuping dulu kamu landai. Tapi yang pasti aku rindu kamu landai, serta bukit lancaran kita. Aku ingin pulang!
Guluk-guluk 14 sebtember 2011
Posted by , Published at 17.39 and have
0
komentar



