SEPENGGAL CATATAN DARI KAMPUNG HALAMAN

SEPENGGAL CATATAN DARI KAMPUNG HALAMAN



Tiga tahun sudah aku tinggalkan kampung halaman sebagai seorang pelajar, waktu yang panjang itu sungguh tak tersa sudah aku lewati begitu saja. Dan kini, pada saat ini rasa rinduku pada kampong halamanku tiba-tiba memuncak dalam perasaanku. Ya,aku rindu dengan sawah,gunung yang berkabut tiap paginya. Sungai yang airnya jernih dan ikan-ikan yang berenang lepas di dalamnya. Semua perasaan dan fikiranku seakan di tarik Sembilan puluh derajat kembali kemasa laluku. Aku benar-benar rindu kampung halamanku. Di sini, hidup di tengah hingar bingar kehidupan kota metro polis penuh polusi dan sampah yang baunya enggak karuan, serta tuntutan hidup yang serba berat, menarikku jadi orang lain yang harus serba penuh perjuangan sendiri, di sini kawan hanya sebatas jalan untuk mencari penghidupan dan makanan. Teman terkadang rela memakan teman sendiri demi sebuah ke untungan yang besar, tanpa mereka tahu arti sebuah pertemanan itu. Hidup di kota bagiku adalah berenang di laut yang lepas dengan hanya bermodalkan keberaniaan dan nikat. Dan entah setelah sekian lama aku hidup  dikebisingan kota, kini aku rindu kampung halamanku. Aku rindu emak, bapak, adik dan suasana kekeluargaan yang sakral antar warga di kampungku. Seakan akan meraka tak pernah terpikir untuk sekedar hidup nyaman sendiri, seaakan satu dengan yang lain memiliki rasa tanggung jawab yang sama untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya. Dan ada satu hal lagi yang membuatku benar-benar rindu pada kampung halaman ini, yaitu seorang yang sangat sepesial bagiku sejak dulu, aku masih benar menyimpan baik-baik di ingatankua saat aku dengannya bermaen lepas di pematang sawah menangkap capung yang bertengger di pucung daun-daun padi yang masih hijau. Dan ketika aku dengan sengaja menjippratkan air kewajahnya ketika kita sama-sama pergi kesungai, untuk memancing ikan atau hanya sekedar bermaen.  Saat itu dia akan merengek padaku untuk tidak menjailinya lagi, dan yang paling tak bisa aku lupakan adalah senyumnya yang sering aku lihat ketika aku pandangi wajah secara sengaja atau tidak. Dia adalah adikku, tepatnya tetanggaku rumahnya yang tak begitu jauh dengan rumahku, tepatnya di sebelah barat rumahku. Membuat kita sering bermaen bersama setiap hari.  Umurnya lebih muda dariku sekitar empat tahunan kurang lebih. Dari saat aku masid SD kita adalah kawan yang sangat akrab, bahkan ada orang yang bilang kita bagai saudara kandung saja, itu karena seringnya kita bersama bermaen. Seakan tak pernah bosan-bosan kita jalan bersama sama tiapa harinya, namun semua beda setalah kita sama-sama sudah menginjak SMA. Aku sering benci saat kau dekat-dekat dengan teman-teman cowok mu. Perasaan yang dulu Cuma sebagai teman saat di SMA seakan beda, aku sepertinya ingin lebih dari teman dengan mu namun aku tak tahu itu apa. Saat itu kita tak sebegitu akrab kayak dulu lagi, aku lebih memilih menjauh dari pada harus bersamu dan kebingungan ku, sementara kau selalu datang kerumahku tiap hari kayak dulu. Tapi aku tak berani bilang apa-apa soal perasaan ini padamu, aku terus berlalu dengan keraguanku ini tiap hari, sampai saat itu. Saat aku sudah kelas tiga dan sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah. Dan benar saat itu sepertinya cepat sekali datang. Malam perpisahan siswa kelas tiga. Malam yang di hadiri oleh semua siswa baik yang masih kelas satu, serta semua dewan guru dan pimpinan sekolah kita. Malam ini perupakan malam dan saat terahir aku berada di sekolah ini. Aku lihatnya  untuk mala ini terasa berbeda dengan saat yang lain, aku lihat dia walau tak seperti bidadari tapi hampir bagiku. Malam yang di terangi bintang dan lampu yang berwana warni di tambah dengan wajah itu, memberiku sejuta keindahan dalam imajinasiku ini.
***
Tek terasa waktu telah berlalu begitu capat dan aku sudah lama tak melihatmu lagi. Aku rindu saat kita bermaen dan tertawa bebas seperti dulu, saat kita masih kecil. Masihkah kau  ingat itu, seperti aku yang selalu ingat padamu?
            Aku tidak tahu apakah aku akan segera pulang atau tidak, tapi aku sudah janji pada diriku sendiri bahwa jika suatu saat aku pulang maka akan aku katakana pada mu, segala apa yang aku rasakan selama ini pada mu, jika saat itu kau masih ada untukku tidak jadi milik orang lain. Dan jika kau sudah di pinang oleh orang lain, maka biarlah aku pendem semua ini dalam jiwaku, supaya tak ada orang yang tahu dan menertawa kanku lantaran aku tak berani untuk bilang padamu tentang semua ini dulu. Aku pasti pulang namun aku tak tahu apakah kepulanganku nanti akan membuatmu bahagia atau biasa-biasa saja untuk mu, aku tak peduli. Karena kebahagian terbesarku adalah ketika aku dapat melihatmu tersenyum padaku seperti dulu, saat kita bermaen bersama.
***
14 Agustus 1993. Ini adalah tanggal untuk pertama kalinya aku pulang ke kampung halaman setelah sekian lama aku tinggalkan, aku lihat wajah emak dan bapak, tersenyum rindu melihat anaknya datang, dalam hatiku berkata, maaf mak, bapak aku tak membawakan kalian oleh-oleh apapun, ini anak mu yang dulu tak ada perubahan apa yang aku dapat setelah sekian lama hidup di kota, kecuali besar tunuhku yang bertambah saja, walau aku tahu emak, bapak  bahwa akalian tak harap apapun dariku namun hutang budi tetap aku rasa. Tak terasa air mataku menetes, setelah melihat kedua orang tuaku yang membesarkanku dengan segala jerih payah, setelah sekian lama tek berjumpa kini berdiri di depanku dengan air wajah yang menampakkan bahwa mereka benar-benar sudah tua, dan sudah seharusnya mereka istirahat untuk menik mati hidup ini dan kini saatnya bagiku untuk berjuang membahagiakan mereka. Aku merasa berdosa pada mereka.
Inilah kampung halamanku, aku hirup kembali udara segarnya. Sawah yang membentang luas,gunung yang menjualang serta gericik air yang mengalir di sungai aku lihat dan aku dengar dengan jelas. Dan di barat rumahku tanpak aku rumah yang modelnya sudah berubah jauh dari dulu. Sekarang tampak lebih bagus dari dulu. Di sanalah orang yang dari dulu membayang dalam perasaan ku. Namun aku tak berani untuk mengatakannya. Seperti apakah dia sekarang, dan masih ingatkah dia padaku. Entah….?

Surabaya 05 Sebtember 2012



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 07.01 and have 0 komentar
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: